Tuesday, 27 November 2012

MODERNISASI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN


Makalah
Di buat untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah
"Teknik Penulisan Karya Ilmiah”
Oleh :
M. Adlan Fahmi
D03209064
Dosen pembimbing:
Dr. Phil. Khoirun Ni’am
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL
SURABAYA
2009




 

1
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik-Nya, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami
yang berjudul “Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren”. Sholawat serta salam tetap
terlimpah curah tiada henti kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad Saw, yang
senantiasa kita harapkan syafaatnya.
Makalah ini kami susun atas dasar tugas yang telah diamanatkan kepada kami
oleh Bapak Dr. Phil. Khoirun Ni’am sebagai dosen pembimbing mata kuliah Teknik
Penulisan Karya Ilmiah. Kami sebagai penyusun, menyadari sepenuhnya bahwa dalam
makalah ini banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami senantiasa mengharap saran serta
kritik yang membangun. Akan tetapi, kami juga tetap berharap semoga makalah yang
telah kami susun ini senantiasa bermanfaat bagi pembacanya. Amin.
Surabaya, 31 Desember 2009
Penyusun
2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
C. Tujuan...........................................................................................................
BAB II : PESANTREN
A. Pengertian Pesantren.....................................................................................
B. Macam-Macam Pesantren.............................................................................
C. Dinamika Pesantren.......................................................................................
BAB III : MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN
A. Sistem Pendidikan Pesantren.........................................................................
B. Beberapa Model Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren.........................
C. Pengaruh Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren....................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang
bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan
sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun
yang lalu, serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim.
Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung,
pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi
masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. Tidak sedikit pemimpin
bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni
atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.1
Namun, kini reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh
sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Mayoritas pesantren masa kini
terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas social. Problem
sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu
terjadi kesenjangan, alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan)
antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. Sehingga terkadang lulusan
pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum
dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. Dunia pesantren dihadapkan
kepada masalah-masalah globalisasi, yang dapat dipastikan mengandung
beban tanggung jawab yang tidak ringan bagi pesantren.2
Semakin disadari, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat
dimasa kini dan mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang
1 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xii
2 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet I.
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
4
masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” perlu direnungkan
kembali. Pesantren harus mampu mengungkai secara cerdas problem
kekiniankita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Disisi lain,
modernitas, yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh
kalangan pesantren, ternyata berisi paradigm dan pandangan dunia yang telah
merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia.3
Dalam konteks yang dilematis ini, pilihan terbaik bagi insane
pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigm dan pandangan dunia
yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Maksudnya, insane
pesantren perlu memosisikan warisan masa lalu sebagai “teman dialog” bagi
modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya. Mereka harus
membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. Masa lalu hadir
atau dihadirkan dengan terang dan jujur, lalu dihadapkan dengan kekinian.
Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan, namun
tak menutup kemungkinan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk
zaman sekarang.4
Salah satu hal yang perlu dimodifikasi adalah system pendidikan
pesantren. System pembelajaran tradisional, yaitu sorogan, bandongan,
balaghan, atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan system
pembelajaran modern. Dalam aspek kurikulum juga seharusnya kalangan
pesantren berani mengakomodasi dari kurikulum pemerintah.5
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pesantren?
2. Apa saja macam-macam pesantren?
3. Bagaimana dinamika pesantren mulai ada hingga sekarang?
4. Bagaimana system pendidikan pesantren?
3 Abd. A’la, Pembaruan Pesantren,Cet I (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006) h. v-ix.
4 Ibid. v-ix
5 Sigit Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen
Pondok Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) h. 5
5
5. Apa saja dan bagaimana model pendidikan dalam proses modernisasi
system pendidikan pesantren?
6. Apa pengaruh modernisasi system pendidikan pesantren terhadap
eksistensi pesantren itu sendiri?
6
-->

BAB II
PESANTREN
A. Pengertian Pesantren
Secara bahasa, kata pesantren berasal dari kata santri dengan awalan
pe- dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri.
Sedangkan kata santri sendiri berasal kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa
sansekerta yang artinya melek huruf. Dalam hal ini menurut Nur Cholis Majid
agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa
yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa
Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa,
dari kata “cantrik”, yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru
kemana guru itu pergi menetap. 6
Sedangkan secara istilah, Husein Nasr mendefinisikan pesantren dengan
sebutan dunia tradisional Islam. Maksudnya, pesantren adalah dunia yang
mewarisi dan memelihara kontinuitas tradisi Islam yang dikembangkan ulama’
(kiai) dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu dalam sejarah
Islam.7
Di Indonesia, istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok
pesantren. Lain halnya dengan pesantren, pondok berasal dari bahasa Arab
funduq, yang berarti hotel, asrama, rumah, dan tempat tinggal sederhana.8
Dari terminology diatas, mengindikasikan bahwa secara kultural
pesantren lahir dari budaya Indonesia. Mungkin dari sinilah Nur Cholis Majid
6 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) h. 61-62. Bandingkan dengan Khozin, Jejak-jejak
Pendidikan Islam di Indonesia,Cet. II (Malang: UMM Press, 2006) h.96-99. Bandingkan dengan
kata pengantar Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar, Gus Dur, Islam dan Kebangkitan
Indonesia, Cet. I (Jakarta: KLIK R, 2007) h. vii-ix.
7 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet I (Yogyakarta:
Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
8 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia,Cet. II (Malang: UMM Press, 2006) hal.62.
lihat juga Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar, Gus Dur, Islam dan Kebangkitan
Indonesia, Cet. I (Jakarta: KLIK R, 2007) h. vii-ix.
7
berpendapat bahwa secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna
keislaman, tetapi juga makna keaslian Indonesia. Sebab, memang cikal bakal
lembaga pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha, dan Islam
tinggal meneruskan, melestarikan, dan mengislamkannya.9
B. Bentuk-Bentuk Pesantren
Tentang bentuk-bentuk pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia,
beberapa pengamat mengklasifikasikan pesantren menjadi empat macam10,
yaitu:
1. Pesantren salafi, yaitu pesantren yang tetap
mempertahankan pelajarannya dengan kitabkitab
klasik, dan tanpa tanpa diberikan
pengetahuan umum. Model pengajarannya pun
sebagaimana yang lazim diterapkan dalam
pesantren salaf, yaitu sorogan dan weton.11
Weton adalah pengajian yang inisiatifnya berasal
dari kyai sendiri, baik dalam menentukan
tempat, waktu, maupun lebih-lebih kitabnya.
Sedangkan sorogan adalah pengajian yang
merupakan permintaan dari seseorang atau
beberapa orang santri kepada kyainya untuk
diajarkan kitab-kitab tertentu.12 Sedangkan
istilah salaf ini bagi kalangan pesantren mengacu
kepada pengertian “pesantren tradisional” yang
9 Ibid. hal. 62
10 Ibid. hal. 101. bandingkan dengan Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid
Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal 70.
11 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamallludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
12 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal. 67.
8
justru sarat dengan pandangan dunia dan praktek
islam sebagai warisan sejarah, khususnya dalam
bidang syari’ah dan tasawwuf.13 Misalnya:
pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Tarbiyatun
Nasyi’in Jombang, dan lain sebagainya.
2. Pesantren khalafi, yaitu pesantren yang
menerapkan sistem pengajaran klasikal
(madrasi0, memberikan ilmu pengetahuan umum
dan agama dan juga memberikan keterampilan
umum. Pesantren jenis ini juga membuka
sekolah-sekolah umum.14 Misalnya: Pesantren
Tebuireng Jombang, Pesantren Tambak Beras
Jombang, dan lain sebagainya.
3. Pesantren kilat, yaitu pesantren yang berbentuk
semacam training dalam waktu yang relatif
singkat, dan biasanya dilaksanakan pada waktu
liburan sekolah.15 Misalnya Pesantren La Raiba
Jombang yang programnya adalah pelatihan
menghafal asam’ul husna, Al Qur’an dan yang
lain sebagainya dengan metode Hanifida,
metode khas pesantren tersebut.
4. Pesantren terintegrasi, yaitu pesantren yang lebih
menekankan pada pendidikan vocasional atau
kejujuran, sebagaimana balai pelatihan kerja,
dengan program yang terintegrasi. Santrinya
kebanyakan berasal dari kalangan anak putus
13 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
14 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal 71.
15 Ibid. hal. 101
9
sekolah atau para pencari kerja.16
C. Dinamika Pesantren
Dalam perspektif sejarah, lembaga pendidikan yang terutama berbasis
di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, sejak
sekitar abad ke-18.17 bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-13.
Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur
dengan munculnya tempat-tempat pengajian. Bentuk ini kemudian
berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi para pelajar
(santri), yang kemudian disebut pesantren.18 Pesantren pertama didirikan oleh
Syekh Maulana Malik Ibrahim.19 Meskipun bentuknya masih sangat
sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya
lembaga pendidikan yang terstruktur. Sehingga pendidikan ini dianggap
sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami
doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan.20
Lembaga ini semakin berkembang pesat dengan adanya sikap non
kooperatif para ulama terhadap kebijakan “politik etis” pemerintah kolonial
Belanda dengan memberikan pendidikan modern, termasuk budaya barat.
Namun pendidikan yang diberikan sangat terbatas, hanya sekitar 3%
penduduk Indonesia. Berarti sekitar 97% penduduk Indonesia buta huruf.
Sikap para ulama tersebut dimanifestasikan dengan mendirikan pesantren di
daerah-daerah yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi Belanda
serta memberi kesempatan kepada rakyat yang belum mendapat pendidikan.21
Pada tahun 1860-an, jumlah pesantren mengalami peledakan jumlah
yang sangat signifikan, terutama di Jawa yang diperkirakan 300 buah.
16 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Cet. I (Malang: UMM Press, 2006) hal.62.
17 Ibid. hal 107.
18 Sigit Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen
Pondok Pesantren, Cet. II (Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 1.
19 Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, Cet. I (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006) hal 16.
20 Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen Pondok
Pesantren, Cet. II( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 1.
21 Ibid. hal 1-2.
10
Perkembangan tersebut ditengarai berkat dibukanya terusan Suez pada 1869
sehingga memungkinkan banyak pelajar Indonesia mengikuti pendidikan di
Mekkah. Sepulangnya ke kampung halaman, mereka membentuk le,baga
pesantren di daerahnya masing-masing.22
Pada era 1970-an, pesantren mengalami perubahan yang sangat
signifikan yang tampak dalam beberapa hal. Pertama, peningkatan secara
kuantitas terhadap jumlah pesantren. Tercatat di Departemen Agama, bahwa
pada tahun 1977, ada 4.195 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 667.384
orang. Jumlah tersebut meningkat menjadi 5.661 pesantren dengan 938.397
orang santri pada tahun 1981. kemudian jumlah tersebut menjadi 15.900
pesantren dengan jumlah santri sebanyak 5,9 juta orang pada tahun
1985.23Kedua, menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Perkembangan
bentuk-bentuk pendidikan di pesantren tersebut diklasifikasikan menjadi
empat, yaitu:
1. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan
formal dengan menerapkan kurikulum nasional,
baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan
maupun yang juga memiliki sekolah umum.24
Seperti Pesantren Denanyar Jombang,
Pesantren Darul Ulum Jombang, dan lain-lain.
2. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan
keagamaan dalam bentuk Madrasah dan
mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum
meski tidak menerapkan kurikulum nasional.
Dengan kata lain, ia mengunakan kurikulum
sendiri. Seperti Pesantren Modern Gontor
22 Ibid. hal. 2.
23 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Cet. I (Malang: UMM Press, 2006) hal.
107. bandingkan dengan Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho.
Manajemen Pondok Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 4.
24 Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen Pondok
Pesantren, Ccccet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 5.
11
Ponorogo, dan Darul Rahman Jakarta.
kurikulum sendiri. Seperti Pesantren Modern
Gontor Ponorogo, dan Darul Rahman Jakarta.25
3. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu
pengetahuan agama dalam bentuk Madrasah
Diniyah,26 seperti Pesantren Lirboyo Kediri,
Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Sumber Sari
Kediri, dan lain sebagainya.
4. Pesantren yang hanya sekedar manjadi tempat
pengajian,27 seperti Pesantren milik Gus
Khusain Mojokerto.
Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa pesantren
ada yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya secara
turun temurun, tanpa ada perubahan dan improvisasi yang berarti, kecuali
sekedar bertahan. Namun ada juga pesantren yang mencoba mencari jalan
sendiri, dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu
singkat. Pesantren semacam ini adalah pesantren yang kurikulumnya
berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya.28
Meskipun demikian, semua perubahan itu, sama sekali tidak
mencerabut pesantren dari akar kulturnya. Secara umum pesantren tetap
memiliki fungsi-fungsi sebagai: (1) Lembaga pendidikan yang melakukan
transfer ilmu-ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fi addin) dan nilai-nilai
islam (Islamic values). (2) Lembaga keagamaan yang melakukan kontrol
sosial (social control). (3) Lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa
sosial (Social engineering). Perbedaan-perbedaan tipe pesantren diatas hanya
25 Ibid hal. 5.
26 Ibid. hal. 5.
27 Ibid hal. 5.
28 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia,Cet. II (Malang: UMM Press, 2006) hal.
108-109.
12
berpengaruh pada bentuk aktualisasi peran-peran ini.29
BAB III
MODERNISASI PENDIDIKAN PESNTREN
A. Model Modernisasi Pendidikan Pesantren
Modernisasi atau inovasi pendidikan pesantren dapat diartikan sebagai
upaya untuk memecahkan masalah pendidikan pesantren. Atau dengan kata
lain, inovasi pendidikan pesantren adalah suatu ide, barang, metode yang
dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok
orang , baik berupa hasil penemuan (invention) maupun discovery, yang
digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan
29 Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen Pondok
Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 6.
13
pesantren.30
Miles mencontohkan inovasi (modernisasi) pendidikan adalah sebagai
berikut:
a. Bidang personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari
sistem sosial, tentu menentukan personel sebagai komponen
sistem. Inovasi yang sesuai dengan komponen personel
misalnya adalah peningkatan mutu guru, sistem kenaikan
pangkat, dan sebagainya.31 Dalam hal ini, pesantren telah di
bantu dengan adanya program Beasiswa S1 untuk guru
diniyah oleh Departemen Agama.
b. Fasilitas fisik. Inovasi pendidikan yang sesuai dengan
komponen ini misalnya perubahan tempat duduk, perubahan
pengaturan dinding ruangan perlengkapan Laboratorium
bahasa, laboratorium Komputer, dan sebagainya.32
c. Pengaturan waktu. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki
perencanan penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan
komponen ini misalnya pengaturan waktu belajar, perubahan
jadwal pelajaran yang dapat memberi kesempatan
siswa/mahasiswa untuk memilih waktu sesuai dengan
keperluannya, dan lain sebagainya.33
Menurut Nur Cholis Majid, yang paling penting untuk direvisi adalah
kurikulum pesantren yang biasanya mengalami penyempitan orientasi
kurikulum. Maksudnya, dalam pesantren terlihat materinya hanya khusus yang
disajikan dalam bahasa Arab. Mata pelajarannya meliputi fiqh, aqa’id, nahwusharf,
dan lain-lain. Sedangkan tasawuf dan semangat keagamaan yang
merupakan inti dari kurikulum keagamaan cenderung terabaikan. Tasawuf
30 Ibid hal. 65
31 Ibid hal. 65
32 Ibid hal. 65
33 Ibid hal. 66.
14
hanya dipelajari sambil lalu saja, tidak secara sungguh-sungguh. Padahal justru
inilah yang lebih berfungsi dalam masyarakat zaman modern. Disisi lain,
pengetahuan umum nampaknya masih dilaksanakan secara setengah-setengah,
sehingga kemampuan santri biasanya samgat terbatas dan kurang mendapat
pengakuan dari masyarakat umum. Maka dari itu, Cak Nur menawarkan
kurikulum Pesantren Modern Gontor sebagai model modernisasi pendidikan
pesantren. 34
B. Plus Minus Modernisasi Pendidikan Pesantren
Dalam menanggapi gagasan ini, tampak kalangan pesantren terbelah
menjadi dua, yaitu pro dan kontra. Adanya kontroversi ini mungkin lebih
disebabkan pada perbedaan pendapat mereka tentang bagaimana sikap
pesantren dalam menghadapi era globalisasi. Mereka yang pro mengatakan
bahwa modernisasi pesantren akan memberi angin segar bagi pesantren.
Mereka menganggap bahwa banyak sisi positif yang akan diperoleh dengan
modernisasi pendidikan di pesantren. Di antara sisi positif tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadapperkembangan era
globalisasi. Hal ini mutlak harus dilakukan agar pesantren tetap
eksis.35
2. Sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem
pendidikan pesantren.36
Sedangkan bagi kalangan pesantren yang tidak setuju dengan gagasan
modernisasi berpendapat bahwa gagasan tersebut banyak sisi negatifnya,
34 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal 77-111.
35 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, “Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan”,cetakan I.
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
36 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal 58-59.
15
diantaranya adalah:
1. Modernitas akan merubah
cara pandang lama
terhadap dunia dan
manusia.37
2. Modernisasi sistem
pendidikan tradisional
dikhawatirkan akan ikut
merubah kultur-kultur
positif yang telah lama
terbentuk di pesantren.
Terlepas dari polemik tersebut, perbedaan pendapat yang terjadi telah
mendatangkan sisi positif tersendiri bagi pesantren. Hal itu telah membuktikan
hadits Nnabi Muhammad Saw ”ikhtilafu ummati rahmatun” yang artinya
”perbedaan pendapat dalam umatku adalah rahmat”. Diantara manfaat dari
perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah:
1. Melahirkan banyak pesantren yang
bervariasi. Banyak pesantren yang
memiliki ciri khas masing-masing. Ini
memberikan banyak pilihan kepada calon
santri dalam menentukan pesantren yang
sesuai dengan bakat, minat serta citacitanya.
2. Lahirnya santri yang beraneka ragam. Hal
ini mengubur paradigma bahwa santri
hanya mampu di bidang agama saja. Saat
ini, banyak sekali santri yang ahli di
bidang pengetahuan umum.
37 Abd. A’la, Pembaruan Pesantren,cet I. (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006) hal vii.
16
17
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang
bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan
sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun
yang lalu, serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim.
Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung,
pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi
masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. Tidak sedikit pemimpin
bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni
atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.38
Secara bahasa, kata pesantren berasal dari kata santri dengan awalan
pe- dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri.
Sedangkan kata santri sendiri berasal kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa
sansekerta yang artinya melek huruf. Dalam hal ini menurut Nur Cholis Majid
agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa
yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa
Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa,
dari kata “cantrik”, yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru
kemana guru itu pergi menetap. 39
Secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman,
tetapi juga makna keaslian Indonesia. Sebab, memang cikal bakal lembaga
38 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xii
39 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) h. 61-62. Bandingkan dengan Khozin, Jejak-jejak
Pendidikan Islam di Indonesia, Cet. II (Malang: UMM Press, 2006) h.96-99. Bandingkan dengan
kata pengantar Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar, Gus Dur, Islam dan Kebangkitan
Indonesia, Cet. I (Jakarta: KLIK R, 2007) h. vii-ix.
18
pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha, dan Islam tinggal
meneruskan, melestarikan, dan mengislamkannya.40
Bentuk-bentuk pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, beberapa
pengamat mengklasifikasikan pesantren menjadi empat macam41, yaitu:
1. Pesantren salafi.
2. Pesantren khalafi
3. Pesantren kilat.
4. Pesantren terintegrasi.
Dalam perspektif sejarah, lembaga pendidikan yang terutama berbasis
di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, sejak sekitar
abad ke-18.42 Bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-13. saat ini,
pekembang pesantren sangat pesat. Pada awal perkembangannya hanya
berjumlah 300 buah, dan berkembang menjadi 15.900 pesantren dengan
jumlah santri sebanyak 5,9 juta orang pada tahun 1985.43 bisa dibayangkan
berapa banyak jumlah pesantren dan santrinya saat ini.
Gagasan modernisasi dianggap perlu dilakukan oleh beberapa kalangan,
salah satunya adalah Nur Cholis Majid. Ia berpendapat bahwa modernisasi ini
sebaiknya dilakukan dengan model sistem pendidikan Pesantren Modern
Gontor Ponorogo.
Namun gagasan ini telah memecah kalangan pesantren menjadi dua
kubu, pro dan kontra. Namun kontroversi ini telah menimbulkan variasi
tersendiri dikalangan pesantren. Ini merupakan salah satu sisi positif dari
perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan pesantren.
40 Ibid. hal. 62
41 Ibid. hal. 101. bandingkan dengan Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid
Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal 70.
42 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Ccet. II (Malang: UMM Press, 2006) hal.
107. bandingkan dengan Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho.
Manajemen Pondok Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) hal. 4.
43 Ibid. hal 107.
19
B. Saran
Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa dalam menyikapi suatu
gagasan. Maka dari itu, tidak perlu dibesar-besarkan. Kalangan pesantren
harus bisa bersikap dewasa dan berpikir positif dalam hal ini. Hal ini salah satu
judul buku Harun Yahya,”Seeing good in the something”.
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abd. 2006. Pembaruan Pesantren,cet I. Yogyakarta: PT. LKiS
20
Pelangi Aksara.
Iskandar, Muhaimin. 2007. Gus Dur, Islam dan Kebangkitan Indonesia,
Cet.I. Jakarta: KLIK R.
Khozin. 2006. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia, Cet. II. Malang:
UMM Press.
Malik, Jamaludin. 2005. Pemberdayaan Pesantren, Menuju Kemandirian
dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet.
I,Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho.
2005. Manajemen Pondok Pesantren, Cet. II. Jakarta: Diva Pustaka
Yasmadi. 2002. Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid
Terhadap PendidikanIslam Tradisional, Jakarta: Ciputat Press.

MAKALAH TEKNIK DASAR KARATE


DISUSUN
Oleh :
NAMA ANDA
NIM ANDA










FAKULTAS ANDA DIDIK
UNIVERSITAS YANG MENAUNGI ANDA
KOTA KAMPUS ANDA
TAHUN


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan panulisan makalah  ini yang berjudul “Teknik Dasar Karate”.
Selawat beriringkan salam juga tidak lupa kami sampaikan kepada Nabi kita Muhammad SAW, karena dengan berkat kegigihan dan kesabaran beliaulah kita dapat menuntut ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan maupun isi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga kami dapat berkarya dengan lebih baik di masa yang akan datang.
Akhirnya dengan satu harapan dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi rekan-rekan pembaca umumnya.
Amiin Yarabbal ‘alamin.

        Banda Aceh, 14 Desember 2011

        Penulis

DAFTAR ISI

Halaman :
Kata Pengantar         i
Daftar Isi         ii
Bab    I    Pendahuluan
    A.    Latar Belakang         1
    B.    Tujuan         2
Bab    II    Pembahasan
    A.    Teknik Karate         3
    B.    Lapangan dan Peralatan         5
    C.    Falsafah Karate         7
    D.    Aliran-aliran Karate         7
Bab    III    Kesimpulan         11
Daftar Pustaka         12


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
     Karate adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” (pinyin: kongshou).
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
1.    Shotokan
2.    Goju-Ryu
3.    Shito-Ryu
4.    Wado-Ryu
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
     Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu dan Uechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".
     Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".
     Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
1.    Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
2.    Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
3.    Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
     Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

B.    Tujuan
-    Mengetahui pengertian dari karate itu sendiri
-    Mengetahui macam-macam aliran karate
-    Mengenal latihan-latihan dasar karate
-    Mengetahui falsah dari beladiri karate

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teknik Karate
     Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).
1.    Kihon
Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.

2.    Kata
Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.
Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan pertandingan.
Para peserta harus memperagakan Kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dan dapat memperagakan Kata pilihan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan Kata , para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
-    Shotokan : Kankudai dan Jion.
-    Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
-    Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
-    Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.

Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar di atas.

3.    Kumite
Kumite  secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.

Pertandingan Karate
Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
a    Kumite (perkelahian) putera dan puteri
b    Kata (jurus) putera dan puteri

B.    Lapangan dan Peralatan
1.    Luas Lapangan
    Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
    Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.
     Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.

2.    Peralatan dalam pertandingan karate
Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan karate :
a    Pakaian karate (karategi) untuk kontestan
b    Pelindung tangan
c    Pelindung tulang kering
d    Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
e    Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
1)    Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan)
2)    Pelindung tubuh untuk kontestan putri
3)    Pelindung selangkangan untuk kontestan putera
f.    Peluit untuk arbitrator/alat tulis
g.    Seragam wasit/juri
1)    Baju putih
2)    Celana abu-abu
3)    Dasi merah
4)    Sepatu karet hitam tanpa sol
h    Papan nilai
i    Administrasi pertandingan
j    Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).
     Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah pelindung selangkangan untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.

C.    Falsafah Karate
1.    Rakka
(Bunga yang berguguran)
Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.

2.    Mizu No Kokoro
(Minda itu seperti air)
Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danau itu akan kabur.

D.    Aliran Karate
Seperti telah disinggung diatas, ada banyak aliran Karate di Jepang, dan sebagian dari aliran-aliran tersebut sudah masuk ke Indonesia.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:
a.    Shotokan
     Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.
b.    Goju-ryu
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
c.    Shito-ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.
d.    Wado-ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.

Sedangkan aliran Karate lain yang besar walaupun tidak termasuk dalam "4 besar JKF" antara lain adalah:
a.    Kyokushin
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo), aliran ini juga sering dikenal sebagai salah satu aliran karate paling keras. Aliran ini menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut.
b.    Shorin-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorin-ryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.
c.    Uechi-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).

BAB III
KESIMPULAN

     Karate (空 手 道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin: kongshou).
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
1.    Shotokan
2.    Goju-Ryu
3.    Shito-Ryu
4.    Wado-Ryu
Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

DAFTAR PUSTAKA

TATA CARA MENULIS KARYA ILMIAH DAN JENIS-JENISNYA



MAKALAH KARYA ILMIAH



DOSEN PEMBIMBING
DR. HASNAH FAIZAH.AR, S.Pd,M.Hum


DISUSUN OLEH

R. SAHRONI
(NIM: 10851001733)



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUSQA RIAU
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
TEKNIK INFORMATIKA
2008/2009


Karya ilmiah
Karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Jenis-jenis karya ilmiah
Secara umum karya ilmiah dapat dikelompokkan menjadi 6 bagian :
1. Skripsi
2. Tesis
3. Disertasi
4. Makalah
5. Artikel
6. Laporan Penelitian
Skripsi, tesis dan disertasi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi mahasiswa program sarjana, magister dan doktor. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi di suatu perguruan tinggi. Skripsi, tesis dan disertasi yang ditulis dapat berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, kajian numerik, kajian analitik, ataupun hasil pengembangan suatu teknologi.
Sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada, yang membedakan ketiga bentuk karya ilmiah tersebut dapat dilihat aspek kuantitatif dan kualitatif. Tugas sarjana merupakan kelompok karya ilmiah. Nama yang digunakan ini menyesuaikan nama mata kuliah yang menauinginya. Dari aspek kuantitatif, disertasi lebih berat bobot akademiknya dibandingkan dengan tesis. Tesis lebih berat bobot akademiknya dibandingkan dengan skripsi. Pembandingan ini juga sangat sulit diberikan pada jenis karya ilmiah yang berbeda jauh topik ataupun antar bidang yang berbeda. Oleh karena itu perbedaan dari aspek kualitatif juga harus dilihat. Aspek kualitatif dapat dilihat dari berbagai aspek permasalahan, aspek kajian pustaka, aspek metodologi, aspek hasil penelitian, dan aspek kemandirian berpikir dalam penyelesaian masalah. Aspek kualitatif ini perlu dilibatkan dalam membandingkan ketiga jenis karya ilmiah akademik tersebut. Laporan tugas sarjana merupakan salah satu bentuk karya ilmiah yang dapat dimasukkan dalam kelompok skripsi. Isi tugas sarjana dapat penelitian lapangan dan industri, perancangan sistem, pembuatan peralatan, penelitian ilmu dasar, berupa sistematika penulisan dan cakupan tulisan karya ilmiah ini sangat tergantung pada judul karya ilmiah tersebut. Isi tugas sarjana ditekankan pada inovasi baru ataupun keoriginalan karya ilmiah yang dituangkan dalam laporan tugas sarjana. Untuk tugas sarjana bertemakan tentang perancangan alat, mahasiswa diwajibkan untuk menyitir minimal dua buah paten untuk memastikan alat yang dirancang tidak melanggar paten, atau untuk memastikan apakah alat yang dibuat dapat dipatenkan. Paten dapat disitir melalui internet atau sumber-sumber lainnya. Sedangkan tugas sarjana yang bertemakan ilmu dasar, ulasan tentang penelitian sebelumnya ataupun informasi mutakhir yang terkait wajib disintir dari berbagai pustaka baik itu publikasi cetak ataupun website. Etika dan kode etik yang lazim ditumbuhbudayakan dalam penulisan karya ilmiah harus diikuti. Hak cipta dan paten dari segi hukum harus diikuti dan difahami dengan baik. Penulis harus memahami etika penulisan karya ilmiah secara baik. Kode etik adalah norma-norma yang telah diterima dan diakui oleh masyarakat dan citivitas akademik perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan, perujukan, perijinan terhadap bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data ataupun informan.

Bahasa dan Tanda Baca
Bahasa tulisan dapat dimengerti dengan baik bila kalimat-kalimat yang telah ditulis sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa tersebut. Tanda baca berperan penting dalam bahasa tulisan. Tanda baca yang tidak lengkap dapat menyebabkan isi tulisan sulit dimengerti. Oleh karena itu perlu dibahas aturan-aturan penulisan tanda baca, kata-kata serta judul-judul yang menjadi materi dalam tulisan tersebut.
1. Penulisan tanda baca
Tanda baca titik (.), titik dua (:), titik koma (;), tanda seru (!), persen (%), dan tanda tanya (?) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.
* Penulisan tanda baca yang tidak baku
Jumlahnya sekitar 10 %

* Penulisan tanda baca yang baku
Jumlahnya sekitar 10%.
Tidak ada spasi (jarak) antara kata di dalam kurung dengan tanda kurung dan tanda kutip.
* Penulisan tanda baca yang tidak baku
Kesalahan ( error ) dapat diabaikan.
* Penulisan tanda baca yang baku
Kesalahan (error) dapat diabaikan.
Tanda sama dengan (=), lebih besar (>), lebih kecil(<), tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesudahnya. * Penulisan tanda baca yang tidak baku P=0,01 S:T=Y  A>B C B C < G
A + B = C
2. Penulisan Kata
Penulisan kata dapat dikelompokkan atas kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabungan, kata depan, partikel, dan kata ganti.
1. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis satu kesatuan.
Contoh:
Buku ini buku baru
Kelas itu penuh sesak
Siswa sedang makan nasi
2. Kata Turunan
Kata turunan adalah kata dasar yang telah berubah karena mendapatkan imbuhan baik itu awalan, sisipan, dan akhiran. Kata dasar tersebut telah dirangkai dengan imbuhan-imbuhan itu.
Contoh:
berkembang biak
melipatgandakan
memberitahukan
berwisata
belajar
beri tahukan
merindukan
pascasarjana
dasawarsa
dwiwarna
3. Kata Ulang
Bentuk kata ulang harus ditulis lengkap dengan kata hubung. Contoh: pura-pura, mata-mata, hura-hura, mondar-mandir, sayur-mayur, undang-undang, kupu-kupu, lauk-pauk.
4. Kata Depan
Kata depan, di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Ibu pergi ke Bandung
Paman datang dari Bali
Kakak tiba di Singapura
5. Kata Ganti
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata-kata yang mengikutinya. –ku, –mu dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: Bukuku dan bukumu tertinggal di meja perpustakaan. Apa pun yang kaumiliki tidak dapat dipinjam.
6. Partikel
Partikel –lah, –kah, –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Marilah kita berangkat ke kampus.
Siapkah yang menang dalam pertandingan nanti?
Partikel pun ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya kecuali untuk kata-kata yang telah dianggap terpadu benar seperti meskipun, adapun, kendatipun, maupun, sungguhpun, andaipun, biarpun, bagaimanapun, dan kalaupun.
Contoh:
Dia pun mengetahui sindikat tersebut.
Mobil-mobil besar pun diijinkan melewati jalan ini.
3. Penulisan Judul
Penulisan judul yang umum digunakan dalam penulisan karya ilmiah sangat penting untuk diuraikan di sini. Dengan demikian keseragaman dalam tulisan karya ilmiah yang diatur dengan panduan ini dapat diperoleh.
1. Judul Bagian dan Sampul Depan Laporan
Judul Bagian ditulis dengan gaya penulisan semua huruf kapital. Bila terdiri atas beberapa baris, maka baris pertama paling panjang dan baris berikutnya lebih pendek serta ditulis dengan gaya di tengah-tengah.
Contoh:
PENGEMBANGAN MESIN PENDINGIN HEMAT ENERGI
STUDI TEKNO EKONOMI DALAM PERANCANGAN MESIN
2. Judul Bab
Judul bab ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikel atau kata depan.
Contoh:
Bab III
Prosedur Optimasi dan Formulasi
Bab I
Pendahuluan
Bab IV
Pengujian dan Analisis
3. Judul Subbab
Judul bab juga ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikel atau kata depan.
Contoh:
Subbab pada Bab II
2.2 Ulasan Singkat Penelitian Terdahulu
2.3 Prinsip Dasar
Subbab pada Bab III
3.3 Metode Optimasi dan Parameter Studi
3.4 Penurunan Formulasi dan Pemrograman
4. Penyingkatan Kata
Tulis penuh semua singkatan seperti: dan lain lain, dan sebagainya, dan seterusnya (bukan ditulis dengan cara ini: dll., dsb., dst.). Penyingkatan suatu istilah dapat diberlakukan, bila memang istilah tersebut panjang dan terlalu sering muncul dalam teks. Untuk penyingkatan ini, kepanjangan istilah tersebut harus dimuculkan pertama kali ketika istilah tersebut pertama kalinya disebutkan dalam teks.
5. Penggunaan dan Penulisan Istilah Asing
Sesuai dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, istilah-istilah keilmuwan ataupun teknik yang  telah dibakukan sebaiknya digunakan dengan benar. Istilah-istilah asing yang sudah punya pandaan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya penggunaan istilah Indonesia yang diutamakan.
Sitematika Karya Ilmiah
Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan dengan sistematika yang diminta oleh media publikasi (jurnal atau majalah ilmiah), sebab bila tidak sesuai akan sulit untuk dimuat. Sedangkan suatu karya ilmiah tidak ada artinya sebelum dipublikasi. Walaupun ada keragaman permintaan penerbit tentang sistematika karya ilmiah yang akan dipublikasi, namun pada umumnya meminta penulis untuk menjawab empat pertanyaan berikut: (1) Apa yang menjadi masalah?; (2) Kerangka acuan teoretik apa yang dipakai untuk memecahkan masalah?; (3) Bagaimana cara yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah itu?; (4) Apa yang ditemukan?; serta (5) Makna apa yang dapat diambil dari temuan itu?
Paparan tentang apa yang menjadi masalah dengan latar belakangnya biasanya dikemas dalam bagian Pendahuluan. Paparan tentang kerangka acuan teoretik yang digunakan dalam memecahkan masalah umumya dikemukakan dalan bagian dengan judul Kerangka Teoritis atau Teori atau Landasan Teori, atau Telaah Kepustakaan, atau label-label lain yang semacamnya. Paparan mengenai apa yang dilakukan dikemas dalam bagian yang seringkali diberi judul Metode atau Metodologi atau Prosedur atau Bahan dan Metode. Jawaban terhadap pertanyaan apa yang ditemukan umumnya dikemukakan dalam bagian Temuan atau Hasil Penelitian. Sementara itu paparan tentang makna dari temuan penelitian umumnya dikemukakan dalam bagian Diskusi atau Pembahasan. Tentu saja sistematika karya ilmiah ini tidak baku, atau harga mati. Sistematika karya ilmiah sangat bergantung pada tradisi masarakat keilmuan dalam bidang terkait, jenis karya ilmiah (makalah, laporan penelitian, skripsi). Dalam suatu karya ilmiah yang mempunyai tingkat keformalan yang tinggi, seperti misalnya skripsi, sistematika penulisan lebih baku, dan beberapa paparan lainnya sering diminta dari mahasiswa, seperti seperti Kesimpulan dan Rekomendasi (Saran-Saran) pada bagian akhir, atau Kata Pengantar pada bagian awal.
Banyak jurnal dan majalah meminta abstrak, yakni rangkuman informasi yang ada dalam dokumen laporan, makalah, atau skripsi, lengkapnya. Abstrak yang ditulis secara baik memungkinkan pembaca mengenali isi dokumen lengkap secara secara cepat dan akurat, untuk menentukan apakah isi dokumen sesuai dengan bidang minatnya, sehingga dokumen tersebut perlu dibaca lebih lanjut.
Abstrak sebaiknya tidak lebih dari 250 kata (dalam satu atau dua paragraf), menyatakan secara singkat tujuan dan lingkup penelitian/pengkajian, metode yang digunakan, rangkuman hasil, serta kesimpulan yang ditarik.
Dalam tradisi pendidikan tinggi dalam bidang sains, kegiatan praktikum menjadi bagian penting dari program pendidikan. Hal ini disebabkan oleh pentingnya peranan kegiatan praktikum dalam mengembangkan kompetensi ahli sains. Praktikum menjadi wahana untuk: (1) Pemantapan pengetahuan teoretis yang telah dipelajari; (2) Pengembangan keterampilan menggunakan peralatan-peralatan standar laboratorium sains; (3)  Pembinaan sikap ilmiah dalam bekerja di laboratorium sains; dan (4) Pengembangan kemampuan menulis laporan kegiatan laboratorium. Kombinasi antara pemahaman yang kuat aspek-aspek teoretis, kemampuan merancang eksperimen/penyelidikan untuk memecahkan masalah dengan mengaplikasikan pengetahuan teoretik tadi, keterampilan bekerja di laboratorium, serta kemampuan menulis laporan sehingga layak dipublikasi, merupakan unsur-unsur penting dari kompetensi seorang ilmuwan. Seperti halnya karya ilmiah lainnya, laporan praktikum mesti memenuhi kriteria: (1) Nalar (logic); (2) Kejelasan (clarity); dan (3) Presisi (precision). Dalam kaitan ini kecermatan berbahasa dalam menulis laporan sangat penting peranannya, karena faktor ini dapat membuat suatu laporan memenuhi tiga kriteria tadi. Perlu diingat bahwa sebuah laporan praktikum adalah wahana penyampaian pesan dari mahasiswa sebagai komunikator kepada pembaca laporan itu (dosen dan mahasiswa lain) tentang: (1) Masalah apa yang diselidiki; (2) Pengetahuan teoretis apa yang dijadikan landasan bagi penetapan prosedur/metode penyelidikan: (3) Apa yang dilakukan untuk pengumpulan data dan informasi; (4) Data apa yang terkumpul dan temuan apa yang dihasilkan dari analisis data; (5) Pembahasan (diksusi) tentang hasil yang diperoleh, khususnya mengenai implikasi temuan ; (6) Kesimpulan apa yang dapat ditarik.
Sesuai dengan fungsi laporan praktikum yang dikemukakan di atas, laporan praktikum umumnya terdiri atas komponen-komponen: (1) Tujuan, yang memaparkan permasalahan apa yang akan diselidiki; (2) Teori, yang memaparkan konsep dan prinsip yang melandasi penyelidikan yang dilakukan; (3) Alat dan bahan, yang merupakan paparan tentang jenis alat dan bahan yang dipakai, baik nama maupun ukuran. Apabila alat ukur elektronik tertentu dipergunakan, hendaknya disertakan merk dan nomor serinya. Bahan kimia perlu dilaporkan dengan konsentrasinya (bila larutan) dan kemurniannya (bila zat murni); (3) Prosedur percobaan, yang memaparkan tahap-demi tahap yang dilakukan; (4) Hasil Percobaan, yang mengungkapkan data yang telah ditabulasi, hasil analisis data, baik secara statistik maupun tidak, serta temuan-temuan penting percobaan sebagai hasil analisis data; (5) Pembahasan, yang mengungkapkan rasionalisasi (penjelasan yang masuk akal) terhadap berbagai temuan yang menarik, misalnya perbedaan antara prediksi teoretis dengan realita yang diamati; (6) Kesimpulan, sebagai pernyataan singkat yang mengungkapkan hasil penyelidikan secara menyeluruh.
Karya ilmiah perlu dilengkapi dengan daftar pustaka, yang memaparkan karya ilmiah lain yang digunakan sebagai rujukan. Agar dapat ditelusuri orang lain penulisan karya ilmiah rujukan tersebut perlu memuat nama pengarang, judul karya ilmiah, tahun penerbitan, serta penerbitnya. Tata cara penulisan daftar pustaka perlu juga memberikan isyarat apakah karya ilmiah yang dirujuk itu berupa buku, jurnal, makalah seminar, laporan penelitian yang tidak dipublikasi, dokumen Web, dll. Oleh karenanya ada tata cara yang ditetapkan untuk menuliskan daftar pustaka. Namun demikian terdapat banyak versi tata cara penulisan daftar pustaka, bergantung pada tradisi yang dipegang oleh masyarakat keilmuan dalam masing-masing bidang. Tata cara penulisan daftar pustaka yang disarankan dalam “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah” di UPI diadopsi sebagian besar dari tata cara yang ditetapkan “American Psychological Association (APA)”. Tata cara ini berbeda dengan yang ditetapkan oleh American Chemical Sosiety, yang keduanya juga berbeda dari tata cara yang ditetapkan oleh Chemical Society of Japan (CJS). Namun, untuk penulisan karya ilmiah dalam konteks pendidikan di UPI, mahasiswa diwajibkan mengikuti pedoman yang ditetapkan UPI. Tata cara apapun dapat saja dipakai asalkan pemakaiannya konsisten. Namun demikian apabila karya ilmiah kita ingin dipublikasikan dalam jurnal tertentu, kita harus menyesuaikan diri dengan tata cara penulisan daftar pustaka yang ditetapkan oleh redaksi jurnal tersebut.
Kerangka acuan penyusun karya ilmiah
Kerangka acuan ini dimaksudkan sebagai pegangan pokok dalam penyusunan karya ilmiah. Kerangka acuan ini dimaksudkan sebagai pedoman umum yang di dalamnya memuat informasi pokok berikut penjelasannya yang wajib diperhatikan oleh peserta seleksi dalam menyusun karya ilmiah. Kegagalan untuk memenuhi seluruh atau sebagian dari elemen kunci yang terkandung dalam kerangka acuan ini akan berakibat pada pengurangan nilai.
Penulisan buku Daftar Acuan (References) dan Daftar Pustaka (Bibliography) dalam Makalah ilmiah, Skripsi, Tesis dan disertasi.
Dewasa ini banyak sumber informasi yang dapat dipakai untuk menulis tulisan ilmiah dalam majalah ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi yang tidak hanya terbatas dari sumber informasi dari buku atau laporan saja, tetapi juga dari internet, surat kabar, laporan lembaga, tesis/disertasi orang lain atau dari sumber kedua yang dikutip oleh seorang penulis, dan sebagainya.
Pedoman baku yang pertama adalah bahwa semua informasi yang bukan dari hasil penelitian sendiri harus dikutip sumber di mana informasi itu diperoleh dan dimasukkan dalam Daftar Acuan (Reference List, References) pada akhir tulisan. Kaidah ini mendidik diri kita agar jujur dalam menulis ilmiah.
Perbedaan antara Daftar Acuan dan Daftar Pustaka
Dalam laporan penelitian, penulisan dalam majalah, tesis dan disertasi hanya dipakai Daftar Acuan, yaitu informasi yang diacu dari sumber lain, yang dimanfaatkan dalam penelitian dan dikutip (cited) baik esensinya maupun statement lengkapnya dalam teks penulisan tesis/disertasi atau laporan penelitian. Penulis dari sumber informasi yang diacu ini harus tercatat dalam Daftar Acuan pada halaman terakhir dari penulisannya.
Sedangkan Daftar Pustaka adalah daftar bacaan yang disarankan untuk dibaca dan tidak diacu dalam tulisan, dalam tesis/disertasi/laporan, tetapi sekedar untuk memperluas wawsan bagi mereka yang ingin mengetahuinya lebih lanjut. Daftar Pustaka tidak disarankan dalam penulisan laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi. Maksudnya tentu agar penelitian, skripsi, tesis dan disertasi memanfaatkan.
Pedoman mengutip sumber informasi dalam teks
1. Kutipan (Citation)
Jika dalam text (tulisan) Anda mengutip informasi, pandangan maupun pendapat sesorang penulis lainnya, maka nama penulis dicantumkan dengan tahun publikasinya dalam tanda kurung. Nama penulis ini harus masuk dalam Daftar Acuan .
Contoh:
“….focus penelitian Dahuri (1983) pada pemberdayaan masyarakat………”
Kalau nama tidak dipakai dalam teks, tetapi mengacu kepada tulisan penulisnya, maka nama dan tahun dari tulisan ditulis dalam kurung pada akhir kalimat.
Contoh:
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu cara terbaik dalam pengelolaan wilayah pesisir secara lestari (Dahuri 1996).
Jika lebih dari satu penulis, maka contoh-contoh di atas ditulis sebagai berikut:
Contoh:
“……Brown and Biven (1977) menekankan pada aspek etika……”
Jika lebih dari dua penulis, maka ditulis sebagai berikut:
Contoh:
“……. …. Bock et al. (1989) meneliti gerakan tektonik di Sumatera dengan cara pengamatan GPS….”
Jika nama-nama penulis tidak dicantumkan dalam teks, maka acuan dilakukan pada akhir kalimat.
Contoh:
“……………….propagasi gelombang elektromagnetik (Pibram et al. 1984).”
Dapat acuan kita lebih khusus lagi dengan mencantumkan halaman di mana kutipan itu berada. Dapat ditulis sebagai berikut:
Contoh:
“…… (Valenstein 1983, pp.284-289) ……………..” atau
“………………………………. (McCaffery et al. 1990, hal. 29)”
Kalau dalam tulisan kita hanya memakai satu acuan saja, dan setiap kali acuan itu dipakai dalam teks, ada baiknya kita menulis nomor halaman yang kita kutip agar tidak membosankan.
Contoh:
Permasalahan yang paling serius di lingkungan perairan Australia adalah penurunana kualitas air (Australia’s Ocean Policy 2001)
Penerapan dari undang-undang Pemukiman Lepas Pantai ditetapkan dalam bulan Februari 1983 (Australia’s Ocean Policy 2001)
Negara persemakmuran juga dapat melakukan pengaturan dengan memberikan pengaruh terhadap permasalahan internasional (Australia’s Ocean Policy 2001)
Ada baiknya acuan yang sama dipakai dalam berbagai kalimat diberi tambahan halaman di mana kutipan tersebut diacu.
Contoh:
“Permasalahan………………….” (Australia’s Ocean Policy, hal. 35-36)
“Penerapan …………… ………” (Australia’s Ocean Policy, hal. 76)
“Negara persemakmuran …………….” (Australia’s Ocean Policy, hal. 157)
2 Kutipan dari beberapa Acuan
Semua acuan dapat ditulis dalam teks dengan memakai satu tanda kurung dibatasi dengan semi-kolom.
Contoh:
(Brown 1878; Gordon 1975; Meares 1967; Pribram et al. 1974; Thorne 1972)
3. Sumber kedua
Umumnya kita tidak membaca sumber aslinya tetapi membaca dari sumber lainnya (sumber kedua) yang mengutip sumber aslinya
Contoh:
Dalam (Dahuri et al. 1996) ada kutipan sebagai berikut pada halaman 11:
“Seringkali keterpaduan yang diartikan sebagai koordinasi antara tahapan pembangunan di wilayah pesisir dan lautan yang meliputi: pengumpulan dan analisis data, perencanaan, implementasi dan kegiatan konstruksi (Sorensen dan McCreary 1990)”
Bagi Dahuri, cs buku Sorensen cs adalah sumber pertamanya. Bagaimana kita yang tidak mempunyai bukunya Sorensen cs, tetapi ingin mengutip statemen di atas, yang ada dalam bukunya Dahuri cs. Bagaimana acuan ini masuk dalam teks Anda. Sumber pertama kita adalah Dahuri et al., dan tidak membaca bukunya Sorensen dan McCreary, maka ditulis dalam teks Anda sebagai beri
“ ……suatu studi oleh Sorensen & McCreary (1990) (dikutip dalam Dahuri, et al. 1996, halaman 11), mengatakan ….” atau
“……. Suatu studi oleh Sorensen & McCreary (1960), dalam Dahuri, et al. (1996), mengatakan ………
Beberapa kesalahan yang sering terjadi pada penulisan ilmiah
1. Kesalahan Struktur
Ada beberapa kesalahan yang sesekali muncul,seperti:
• tidak ada daftar isi, daftar gambar, dan daftar tabel
• bagian pendahuluan dan teori-teori pendukung terlalu banyak ditampilkan sehingga mendominasi buku laporan/thesis.
2. Penulisan Bagian Abstrak
Abstrak merupakan rangkuman dari isi tulisan dalam format yang sangat singkat . Untuk itu isi dari abstrak tidak perlu “berbunga-bunga” dan berpanjang lebar dengan latar belakang, cukup langsung kepada intinya saja. Memang sebuah kesulitan yang dihadapi bagaimana caranya merangkumkan semua cerita menjadi satu halaman.
3. Penulisan Bagian Kesimpulan
Sebuah kesimpulan adalah pernyataan yang dapat dibuktikan dalam penelitian, dengan kata lain pernyataan itu tidak bisa muncul tiba-tiba pada bagian kesimpulan tanpa pembuktian.
Contoh:
Program (software) ini berjalan lebih cepat pada computer Pen-tium IV dengan kecepatan 1GHz, dibandingkan jika didijalankan di computer Pentium II dengan kecepatan 233MHz.
Dalam contoh diatas, jika tidak membandingkan program dengan kedua jenis komputer tersebut maka kita tidak boleh menuliskannya dalam kesimpulan.
4. Menuliskan istilah asing
5. Mengutip
6. Menuliskan Daftar Pustaka
7. dan lain-lain.
Bentuk dan Format Tugas Sarjana
1. Bagian Utama Laporan
Laporan tugas sarjana disusun dengan kerangka penulisan yang dapat memuat hal-hal utama dan ini sangat tergantung pada topik tugas sarjana tersebut. Adapun bagian-bagian yang harus ada dalam laporan tugas sarjana adalah:
a) Halaman Judul (bentuk sesuai template)
b) Lembar Pengesahan (bentuk sesuai template)
c) Abstrak dalam bahasa Indonesia (bentuk sesuai template)
d) Abstrak dalam bahasa Inggris (bentuk sesuai template)
e) Kata Pengantar
f) Daftar Isi
g) Daftar Notasi atau Simbol
h) Daftar Gambar
i) Daftar Tabel
j) Isi Laporan dengan contoh sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, dapat meliputi: Latar Belakang: berisikan uraian apa dan mengapa topik yang dipilih tersebut mempunyai arti yang penting. Identifikasi masalah: masalah-masalah yang mungkin timbul dari topik yang dipilih. Tujuan: merumuskan tujuan utama dari masalah telah dipilih. Manfaat: kegunaan dari hasil yang diharapkan. Batasan Masalah: memilih masalah dari kemungkinan yang
ada serta serta argumentasi. Sistematika Penulisan
Bab II Tinjauan Pustaka, dapat meliputi: Teori Dasar dan ulasan penelitian-penelitian yang ada dan kajian pustaka terkait dengan topik Tugas Sarjana.
Bab III Peralatan dan Prosedur Pengujian atau Prosedur Optimasi atau Formulasi dan Optimasi.
Bab IV Hasil dan Analisis serta Diskusi, berisikan hasil-hasil yang terkait dengan parameter studi dan tujuan dari Tugas Sarjana serta analisis-analisis lebih lanjut terhadap hasil hasil-hasil tersebut.
Bab V Kesimpulan dan Saran, berisikan kesimpulan menyeluruh dari hasil serta saran-saran untuk perbaikan atau aspek lain yang perlu dikaji lebih lanjut. Isinya harus sesuai tujuan pada bab pendahuluan dan analisis serta diskusi yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya.
Daftar Pustaka adalah lampiran (contoh perhitungan, list program utama, data mentah, foto pengujian, disket/CD ROM, data lain yang dianggap perlu).
2. Beberapa Penjelasan Bagian Laporan
Berikut ini diberikan beberap penjelasan terkait dengan bagian-bagian dalam laporan yang masih belum dijelaskan pada sub bab sebelumnya.
1. Abstrak
Abstrak ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Abstrak memuat inti sari tugas sarjana meliputi pendahuluan atau latar belakang masalah, metode penyelesaian masalah dan diakhir dengan hasil-hasil utama tugas sarjana. Dalam susunan penjilidan, abstrak bahasa Indonesia ditulis terlebih dahulu kemudian disusul dengan abstrak bahasa Inggris.
2. Kata Pengantar
Bagian ini adalah harapan dari penulis terhadap karya tugas sarjananya serta ucapan terima kasih yang disampaikan penulis. Bahasa yang
digunakan untuk bagian ini harus bahasa formal.
3. Daftar Isi
Berisikan isi tugas sarjana, dimulai dengan kata pengantar, daftar isi, daftar simbol, daftar tabel, daftar gambar, bab-bab dari isi tugas sarjana, daftar pustaka, dan lampiran.
4. Daftar Pustaka
Berisi pustaka-pustaka yang dijadikan rujukan selama mengerjakan tugas sarjana. Cara penyusunan pustaka-pustaka dalam daftar pustaka mengikuti aturan dengan penimoran. Semua pustaka-pustaka yang disintir di dalam karya tugas sarjana harus masuk dalam daftar pustaka ini.
5. Lampiran
Sistematika penomoran bagian-bagian isi dalam lampiran mengikuti aturan penomoran tersendiri. Bila lampiran dapat dikelompokkan, maka lampiran dapat diberi nama lampiran A, kemudian lampiran B, lampiran C dan seterusnya. Bila ada tabel ataupun gambar dalam lampiran tersebut, misalkan tabel ada dalam lampiran A, tabel diberi nomor Tabel A.1, Tabel A.2, dan seterusnya. Demikian juga untuk penomoran gambar, bila ada dalam lampiran B, maka diberi nama Gambar B.1, Gambar B.2, dan seterusnya. Tata letak dan penyajiannya dapat mengikuti pembahasan yang diberikan pada Bab IV.
3. Perujukan dan Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka berisikan nama-nama referensi yang benar-benar menjadi acuan dalam penulisan ataupun pengerjaan tugas sarjana. Pustaka ini sebaiknya dirujuk ataupun diulas dalam deskripsi tugas sarjana tersebut. Secara umum penulisan daftar pustaka dapat dibedakan atas 2 yaitu penulisan dengan nomor urut dan penulisan dengan urutan alfabet nama penulis. Dengan pertimbangan bentuk tulisan yang lebih kompak dan mudah dilacak pustaka yang disintir dalam tugas sarjana, perujukan dalam tugas sarjana diseragamkan dengan cara penulisan menggunakan nomor urut. Daftar pustaka ditulis dengan urutan nama pengarang/penulis, judul buku/artikel, nama jurnal, halaman, tahun penerbitan. Pengurutan pustaka dapat didasarkan pada sistem alfabet nama penulis atau penomoran. Urutan penomoran dimulai dari pustaka yang lebih awal dirujuk dan kemudian diikuti dengan pustaka yang dirujuk berikutnya. Untuk pustaka dengan pengurutan berdasarkan penomoran, semua nama penulis ditulis sesuai dengan aslinya (susunannya tidak dibalik). Susunan nama asli yang dimaksud adalah susunan nama yang mengikuti pengelompokan umum terdiri atas: first name, middle name, dan last name (family name). Susunan nama penulis ini sangat tergantung dari budaya atau asal negara ataupun daerah dari penulis. Nama penulis yang merupakan nama pemberian (given name). Nama pemberian ini ditulis apa adanya dan kata yang terakhirnya dianggap sebagai last name-nya.
Perujukan terhadap pustaka dengan nama penulis dan tahun untuk pengurutan pustaka dengan sistem alfabet, dan nama penulis dan nomor urut pustaka untuk daftar pustaka pengurutan dengan penomoran. Sedangkan perujukan yang lebih menekankan substansinya maka pustaka ditulis diakhir kalimat dengan cara salah satu perujukan yang telah dipilih.
1. Perujukan dari Buku yang diterbitkan
Urutan penulisan data-data mengenai pustaka dari buku yang diterbitkan diawali dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama, kedua dan nama
keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama pertama dan kedua dapat disingkat. Nama penulis diakhiri dengan koma dan kemudian diikuti judul buku, nama penerbit dan diakhiri dengan tahun terbitan. Judul buku diketik dalam huruf miring. Edisi buku diletakkan setelah judul buku.
Contoh:
1. D. M. Bates dan D. G. Watts, Non Linear Regression Analysis and Its Applications, John Wiley & Sons, New York, 1988.
2. M. J. Moran dan H. N. Shapiro, Fundamentals of Engineering Thermodynamics, Edisi 3, John Willey & Sons, New York, 1996.
3. Steven C. Chapra and Raymond P. Canale, Numerical Method for Engineers, Edisi 4, McGraw-Hill, 2002.
4. E. P. Popov, Engineering Mechanics of Solids, Prentice Hall, Engelwood Cliffs, New Jersey, 1990.
5. W. D. Callister, Material Science and Engineering: An Introduction, Edisi 2, John Willey & Sons, 1991.
6. G. Takeshi Sato dan N. Sugiarto Hartanto, Menggambar Mesin Menurut Standar ISO, Edisi 1, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1981.
2. Perujukan dari Buku yang telah diterjemahkan
Urutan penulisan data-data mengenai pustaka dari buku yang telah diterjemahkan diawali dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama, kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama pertama dan kedua dapat disingkat. Nama penulis diakhiri dengan koma dan kemudian diikuti judul buku dalam bahasa terjemahannya, setelah itu diikuti kata “terjemahan” + nama penerjemah, nama penerbit dan diakhiri dengan tahun terbitan. Judul buku diketik dalam huruf miring. Edisi buku dan jilid buku diletakkan setelah judul buku.
Contoh:
1. J. L. Meriam dan L. G. Kraige, Mekanika Teknik – Statika, Jilid I, Versi SI, terjemahan Tony Mulia, Penerbit Erlangga, 1988.
2. E. P. Popov, Mekanika Teknik, terjemahan Zainul Astamar, Penerbit Erlangga, 1993.
3. Perujukan Artikel dari Jurnal
Urutan penulisan data-data mengenai pustaka berupa artikel atau makalah dalam jurnal diawali dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama, kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama pertama dan kedua dapat disingkat. Nama penulis diakhiri dengan koma dan kemudian diikuti dengan judul tulisan, nama jurnal, nomor terbitan volume dan nomor jilid jurnal, halaman awal dan akhir yang memuat artikel tersebut dan diakhiri dengan tahun terbitan. Nama jurnal diketik dalam huruf miring. Volume ditulis dengan huruf tebal, nomor jilid dari suatu volume ditulis di dalam tanda kurung setelah nomor volume. Nomor halaman diawali dengan tanda titik dua.
Contoh:
1. I M. Astina dan H. Sato, A Rational Helmholtz Fundamental Equation of State for Difluoromethane with an Intermolecular Potential Background, International Journal of Thermophysics, 24(4):963-990, 2003.
2. Sigit Y. Martowibowo dan B. Suharto, Metode Ultrasonik untuk Menentukan Arah Kristal Tunggal Berstruktur, Jurnal Teknik Mesin, 15(2):45-53, 2000. 3. D. B. Fogel, An Introduction to Simulated Evolutionary Optimization, IEEE Trans. on Neural Networks, 5(1):3-14, 1994.
4. J. W. Leach, P. S. Chappelear, dan T. W. Leland, Use of Molecular Shape Factors in Vapor-Liquid Equilibrium Calculations with the Corresponding States Principle, AIChE J., 14(4):568-576, 1968.
4. Perujukan Makalah yang Dipresentasikan
Urutan penulisan data-data mengenai pustaka dari makalah yang dipresentasikan diawali dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama,
kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama pertama dan kedua dapat disingkat. Nama penulis diakhiri dengan koma dan kemudian diikuti dengan judul makalah, nama forum makalah tersebut dipresentasikan serta kota dan tanggal penyelenggaraan forum tersebut.
Contoh:
1. P. King, H. Mandair, C. Belton, H. Ho dan D. Copp, Modelling and Simulation Tools to Calibrate an Engine Management on Board Diagnostic System, dipresentasikan pada IEEE Seminar, London, 27 March 2000.
2. A. R. H. Goodwin, A. Fitt, K. Ronaldson, dan W. A. Wakeham, Micro Electro Mechanical System (MEMS) for the Measurement of Density and Viscosity, dipresentasikan pada 17-th European Conference on Thermophysical on Thermophysical Properties, Bratislava, Slovakia, 5-8 September, 2005.
5. Perujukan Makalah dalam Prosiding
Urutan penulisan data-data mengenai pustaka dari makalah yang dimuat dalam prosiding diawali dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama,
kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama pertama dan kedua dapat disingkat. Nama penulis diakhiri dengan koma dan kemudian diikuti dengan judul tulisan, nama prosiding, halaman awal dan akhir yang memuat artikel tersebut dan diakhiri dengan tahun terbitan. Nama jurnal diketik dalam huruf miring. Nomor jurnal diketik dengan huruf tebal, nomor terbitan volume dalam tanda kurung setelah nomor volume.
Contoh:
1. C. Sarin, I M. Astina, P. S. Darmanto, dan H. Sato, Thermodynamic Equation of State for Alternative Refrigerant of HC-600, prosiding Seminar Nasional Tahunan ke-4 Teknik Mesin, G2-Konversi Energi, hal. 37-42, Kuta Bali, 2005.
2. B. Fajar, Sularso, A. Suwono, Priyono, Labraga dan C. Tournier, Experimental Study of Wall Friction Structures from a Rotating Cylinder in Cross Flow, Proceeding of International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversions, hal. 115-123, Bandung, 2000.
3. M. Fukushima, S. Ohotoshi, dan T. Miki, Thermodynamic Properties th
Measurements of HFC-32 and HFC-125, Proceeding of 19 Int. Cong. Refrig. IVa, hal. 207-214, Hague, 1995.
6. Perujukan Artikel dari Majalah
Untuk artikel yang diterbitkan dalam majalah, rujukannya ditulis mulai dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama, kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga. Nama penulis diikuti dengan judul artikel, batas halaman dan tanggal bulan tahun penerbitan yang memuat artikel tersebut. Bila nama penulis tidak dicantumkan dalam artikel tersebut, maka yang pertama dimulai dengan judul artikel. Nama majalah diketik dengan huruf miring.
Contoh:
1. Arnawa Widagda, NCP Removable Media: Media Penyimpan Massa Depan, Chip, hal. 70, Nopember-Desember 2001.
2. A. A. Hartanto, LBS Pemandu Yang Setia, Selular, hal. 58-59, Maret 2003.
3. Mengenal Teknologi Penunjang VAS, Selular, hal. 54-55, Maret 2003.
7. Perujukan Artikel ataupun Informasi dari Koran
Untuk artikel yang diterbitkan dalam koran, perujukannya yang ditulis dalam daftar pustaka dimulai dengan nama penulis yang ditulis dengan nama pertama, kedua dan nama keluarga atau given name bila tidak mempunyai nama keluarga bila nama penulis disebutkan dalam koran tersebut. Nama penulis diikuti judul tulisan dan nama koran serta tanggal pemuatannya. Nama media pemuat diketik dengan huruf miring.
Contoh:
1. N. Hamzah, Belajar dari Jepang Perihal Pengelolaan Sampah, Kompas, 19 Juni 2006.
2. Hendardi, Kepemimpinan Antikorupsi, Kompas, 15 Juni 2006.
3. Merawat Mobil Hibrida, Kompas, 16 Juni 2006.
8. Perujukan Artikel atapun Informasi dari Website
Untuk artikel yang diterbitkan lewat internet, penulisannya harus mencantumkan alamat lengkap situs yang memuat artikel tersebut. Urutan penulisan data-data mengenai pustaka berupa artikel atau makalah dalam jurnal ataupun artikel dalam majalah, penulisannya sama dengan terbitan dalam bentuk cetakan bila artikel tersebut jurnal ataupun majalah elektronik. Pada akhirnya ditulis alamat lengkap Website dan tanggal aksesnya. Nama media jurnal ataupun majalah diketik dengan huruf miring.
Contoh:
1. P. Landon, An Introduction to Inflow Prevention, Pump and System, (Online), March 2006 (http://www.pump-zone.com/articles/An_Intro.pdf, diakses 9 Maret 2006).
2. A. Dwan, Paper Complexity and the Interpresentation of Conservation Research, Journal of the American Institute for Conservation,26(19):1987 (http://www.aic.stanford.edu/jaic/articles/jaic26-01-001.html, diakses 26 Juni 2006).
9. Perujukan Buku Manual yang Diterbitkan Perusahaan
Buku manual untuk peralatan juga merupakan pustaka yang penting untuk dimasukkan dalam daftar pustaka terlebih lagi bila buku ini dirujuk di dalam tulisan.
Contoh:
1. Tokyo Fatique Equipment, Fatique Rotating Bending Constant Amplitude Manuals, Tokyo Fatique Equipment, Ltd., Tokyo, 1992.
2. Trane, Air Conditioning Manual, La Crosse, Trane, Ltd., 1994.
10. Perujukan Buku dari Suatu Lembaga
Buku dari suatu lembaga juga dapat dijadikan rujukan. Adapun tata cara penulisan rujukan ini adalah diawali dengan nama lembaga, judul buku, nama institusi, kota tempat penerbitan, dan diakhiri dengan tahun. Judul buku diketik dengan huruf miring.
Contoh:
1. Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah, Depdikbud, Ditjen Dikti, Jakarta, 1994.
2. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Balai Pustaka, Jakarta, 1980.
11. Perujukan Tugas Sarjana, Tesis dan Disertasi
Tata cara penulisan rujukan untuk karya ilmiah tugas sarjana, skripsi, tesis dan disertasi didahului dengan nama penulis dengan susunan nama first name, middle name dan family name atau nama, atau menulis sesuai dengan given name
bila tidak ada nama keluarga. Setelah nama penulis diikuti dengan judul karya ilmiah tersebut, nama karya ilmiah, program studi dan nama fakultas serta institusi, lalu diikuti dengan nama kota dan tahun. Judul karya ilmiah diketik dengan huruf miring.
Contoh:
1. Juristiawan Fitriansyah, Pengembangan Persamaan Dasar Tingkat Keadaan Sifat-Sifat Termodinamika untuk Propana, Tugas Sarjana, Teknik Mesin FTI ITB, 2006.
2. J. Newbold, Combustion Measurements and Modeling of an Industrial, Gas-Fired, Flat-Glass Furnace, M.S. Thesis, Department of Mechanical Engineering, Bringham Young University, Provo, Utah, 1997.
12. Perujukan dari Laporan Penelitian yang Tidak dipublikasikan
Laporan penelitian juga dapat dijadikan referensi dalam penulisan karya ilmiah. Adapun penulisannya dimulai dengan nama peneliti, diikuti dengan koma dan judul laporan (ketik miring), penjelasan laporan serta lembaga dan kemudian diakhiri dengan tahun.
Contoh:
1. K. Nielsen, Thermal Energy Storage: A State-of-the-Art, A report within the research program Smart Energy-Efficient Buildings at NTNU and SINTEF, 2003.
2. I M. Astina, Development of Thermodynamic Property Models for Wide-Range Fluid-Phase Propane and Normal Butane, Research Report for Osaka Gas Foundation, ITB, 2005
13. Perujukan Buku Berisi Kumpulan Artikel (ada editor)
Penulisan buku sebagai rujukan ini sama dengan penulisan rujukan untuk buku. Di belakang nama penulis ditambahkan (Ed.) bila editornya hanya seorang dan (Eds.) bila editornya beberapa orang.
Contoh:
1. A. Bejan, P. Vadasz, dan D. G. Kroger (Eds.), Energy and the Environment, Kluwer Academic Publishers, Boston, 1999.
2. W. A. Wakeham, A. Nagashima, dan J.V. Sengers (Eds.), Measurement of the Transport Properties of Fluids, Blackwell Scientific Publications, Edinburgh, 1991.
14. Perujukan Artikel dalam Buku Berisi Kumpulan Artikel (ada editor)
Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti judul artikel (tidak cetak miring), penjelasan tentang artikel itu dimuat yaitu nama mengikuti penulisan perujukan buku berisi kumpulan artikel. Batas halaman tempat artikel tersebut
berada diberi tanda dalam kurang diletakkan setelah judul buku. Judul buku dan editor buku mengacu pada tata cara penulisan buku yang berisi artikel.
Contoh:
1. B. W. Webb, Advances in Modeling Radiative Transport in High Temperature Gases, dalam A. Bejan, P. Vadasz dan D. G. Kroger (Eds.), Energy and the Environment (hal. 75-87), Kluwer Academic Publishers, Boston, 1999.
2. J. L. Fogel, Evolutionary Programming in Perspective: The Top-Down View, dalam J. M. Zurada, R. J. Marks II, dan C. J. Robinson (Eds.), Computational Intelligence Imitating Life (hal. 135-146), IEEE Press, New York, 1994.
15. Perujukan Artikel dalam Jurnal/Proceeding dari CD-ROM
Penulisannya sama dengan perujukan artikel dalam jurnal cetak ditambah dengan penyebutan CD-ROM dalam kurung.
Contoh:
1. I M. Astina dan H. Sato, State of the Art on Thermodynamic Modeling for HFC Refrigerants: The Recent Challenge to Develop Fundamental Equations of State, Proc. 2nd Doctoral Conference Asia Pacific Rim Universities, Mexico City, Mexico, 2003 (CD-ROM).
2. E. F. May, T. J. Edwards, A. G. Mann, C. Edwards, An Improved Microwave Apparatus for Phase Behavior Measurements in Lean Gas Condensate Fluids, th Proc. 16
European Conference on Thermophysical Properties, London, 2002 (CD-ROM)
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, S., Arsjad, M. G., Ridwan. 1988. Pembinaan kemampuan menulis bahasa Indonesia.. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Day, R. A. 1983. How to write and publish a scientific paper. Philadelphia: ISI Press.
Fakultas Pascasarjana ITB.2003. Pedoman Penulisan Tesis. Bandung: Fakultas Pascasarjana ITB.
Featherstone, W.E. 1996. Thesis Requirements for Honors, Masters and Doctoral Students. Perth: Curtin University.
John S. Hartanto. 1995. Pedoman Umum Pembentukan Istilah, dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.Surabaya: Penerbit Indah.
Kate L. Turabian. 1996. A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and the Edition. Chicago: The University of Chicago Press.
Phillips, E.M., and D.S.Puch. 1994. How to Get a PhD. Buckingham: Open University Press.
Sudjana, Nana.1999. Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
The University of Chicago Press. 2003. The Chicago Manual of Style, 15 edition. Chicago: The University of Chicago Press.
Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi,Tesis, Disertasi,Artikel, Laporan Penelitian. Malang: Universitas Negeri Malang.