Monday, 31 August 2015

STUDI KORELASI ANTARA KREATIVITAS GURU PAI DAN KEMAMPUAN MENGELOLA KELAS DENGAN PRESTASI
BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 3 DEMAK

Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran yang penting dalam menentukan perkembangan dan perwujudan diri individu. Pendidikan bertanggung jawab untuk mengembangkan bakat dan kemampuan  secara optimal sehingga anak dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai kebutuhan pribadi dan masyarakat (Munandar, 1999:4).
Inti dari proses pendidikan secara formal adalah mengajar sedangkan inti dari proses pengajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu proses belajar mengajar pada intinya terpusat pada satu persoalan yaitu bagaimana guru melaksankan proses belajar mengajar yang efektif guna tercapainya suatu tujuan (M. Ali, 1987:1).
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun kelompok, di sekolah maupun di luar sekolah. Karena profesinya sebagai guru berdasarkan panggilan jiwa, maka tugas guru sebagai pendidik berarti mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan serta mengajarkan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan anak didik (Hasibuan dan Moedjiono, 1995:40).
Guru merupakan salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat diartikan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau pada taraf kematangan tertentu. Dalam rangka ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang transfer of knowledge, tetapi juga sebagai pendidik yang transfer of values, dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menentukan siswa dalam belajar. Berkaitan dengan ini, seorang guru memiliki peranan yang kompleks dalam proses belajar mengajar dalam usahanya untuk mengantarkan siswa ke taraf yang dicita-citakan (Sardiman, 2001: 123).
Keberhasilan seorang guru dalam mengajar ditentukan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal terdiri atas motivasi, kepercayaan diri, dan kreativitas guru itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal lebih ditekankan pada sarana serta iklim sekolah yang bersangkutan. Setiap kemajuan yang diraih manusia selalu melibatkan kreativitas. Ketika manusia mendambakan produktivitas, efektivitas, efisiensi, dan bahkan kebahagiaan yang lebih baik dan lebih tinggi dari apa yang sebelumnya di capai, maka kreativitas dijadikan dasar untuk menggapainya (Munandar, 1999:10).
Kreativitas pada dasarnya merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada setiap manusia, yakni berupa kemampuan untuk mencipta (daya cipta) dan berkreasi. Implementasi dari kreativitas seseorangpun tidak sama, bergantung pada sejauh mana orang tersebut mau dan mampu mewujudkan daya ciptanya menjadi sebuah kreasi ataupun karya (Nashori, 2002: 21).
Setiap orang memiliki potensi kreatif yang dibawa sejak lahir meskipun dalam derajat dan bidang yang berbeda-beda, sehingga potensi itu perlu ditumbuh kembangkan sejak dini agar dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Untuk itu diperlukan kekuatan pendorong, baik dari dalam individu maupun dari luar individu yaitu lingkungan. Lingkungan dalam hal ini mencakup lingkungan dalam arti kata sempit (keluarga, sekolah) maupun dalam arti kata yang luas (masyarakat, kebudayaan) yang mampu menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menanamkan daya kreatif individu (Munandar, 1988:83).
Dengan demikian, baik di dalam individu maupun di luar individu (lingkungan) dapat menunjang atau menghambat potensi kreativitas, implikasinya ialah bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui pendidikan mengingat bahwa kreativitas merupakan bakat secara potensial yang dimiliki setiap orang sejak lahir yang dapat diidentifikasi dan dibekali melalui pendidikan yang tepat (Munandar, 1999:12).
Pendidikan hendaknya tidak hanya memperhatikan pengembangan keterampilan-keterampilan berfikir semata, tetapi pembentukan sikap, perasaan, dan ciri-ciri kepribadian yang mencerminkan kreativitas yang perlu dikembangkan. Dalam hal ini banyak bergantung pada inisiatif dan kreativitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang dapat memupuk dan menunjang kreativitas siswa, sehingga siswa dapat merasa bebas mengungkapkan pikiran dan perasaannya, mempunyai daya kreasi dalam bekerja. Hal ini mencerminkan kemerdekaan dan demokrasi dalam pendidikan, yang berarti terwujudnya pendidikan itu berada diatas kreativitas kinerja para guru dalam menjalankan tugas (Munandar, 1992:48).
Salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang ada. Demikian pula seorang guru dalam proses belajar mengajar, guru harus menggunakan variasi metode dalam mengajar, memilih metode yang tepat untuk setiap bahan pelajaran agar siswa tidak mudah bosan (Roestiyah, 1989:4). Guru harus terampil dalam mengolah cara pembelajaran, cara membaca kurikulum, cara membuat, memilih dan menggunakan media pembelajaran, dan cara evaluasi baik dengan tes maupun melalui observasi (Djohar, 2006:137). Evaluasi berfungsi untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan, dan sebagai feed back bagi seorang guru. Guru yang baik dapat mengaktifkan murid dalam hal belajar (Nasution, 1995:9).
Seorang guru harus mampu mengoptimalkan kreativitasnya. Kreativitas serta aktivitas guru harus mampu menjadi inspirasi bagi para siswanya. Sehingga siswa akan lebih terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya dan berkreasi. Guru berperan aktif dalam pengambangan kreativitas siswa, yaitu dengan memiliki karakteristik pribadi guru yang meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat dan keluwesan (fleksibel). Guru yang kreatif mempunyai semangat dan motivasi tinggi sehingga bisa menjadi motivator bagi siswanya untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas siswa, khususnya yang tertuang dalam sebuah bentuk pembelajaran yang inovatif. Artinya selain menjadi seorang pendidik, guru juga harus menjadi seorang kreator yang mampu menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan kondusif bagi anak didik. (Sardiman, 2001: 127).
Proses pendidikan dan pengajaran dapat berjalan dengan baik apabila terdapat suasana atau kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan tenang dan mempunyai kesiapan penuh untuk mengikuti jalannya proses pembelajaran. Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila: pertama, diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar, kedua, dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim belajar mengajar, ketiga, dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan (Rohani, 2004:123-124).
Kedudukan guru sebagai pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, salah satunya sebagai pengelola kelas. Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berkumpulnya semua anak didik dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Dalam setiap proses pengajaran kondisi ini harus direncanakan dan diusahakan oleh guru agar dapat terhindar dari kondisi yang merugikan (usaha pencegahan), dan kembali kepada kondisi yang optimal apabila terjadi hal-hal yang merusak, yang disebabkan oleh tingkah laku peserta didik di dalam kelas (usaha kuratif) (Djamarah, 2005:144).
Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif, sebaliknya kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pengajaran. Untuk dapat mewujudkan kelas yang kondusif, maka guru harus mempunyai strategi atau kemampuan keterampilan yang diperlukan dalam pengajaran, menciptakan situasi belajar yang optimal dan dapat mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar (Arikunto, 1988:68).
Kemampuan dalam mengelola kelas merupakan kegiatan penting bagi guru sebelum melaksanakan pembelajaran, terutama penciptaan suasana kondusif di dalam kelas sehingga memungkinkan para siswa merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Apabila siswa dalam keadaan antusias mengikuti penjelasan guru, maka siswa akan bersikap disiplin dan mempunyai minat untuk belajar lebih tekun lagi. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Oleh karena itu pengelolaan kelas harus ditingkatkan supaya siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal (Djamarah, 2005:145).
Dengan mengkaji konsep dasar pengelolaan kelas, mempelajari berbagai pendekatan pengelolaan dan mencobanya dalam berbagai situasi kemudian dianalisis, maka guru akan dapat mengelola proses belajar mengajar secara lebih baik. Kondisi yang menguntungkan di dalam kelas merupakan prasyarat utama bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif (Wragg, 1995:12).
Pembelajaran yang efektif dapat meningkatkan prestasi anak didik. Zaenal Arifin, mengemukakan bahwa kata ”prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi ”prestasi” yang berarti ”hasil usaha” (Zaenal Arifin, 1990:3). Sedangkan Winkel mengemukakan belajar adalah suatu proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan nilai dan dapat pula berupa sesuatu yang baru dan nampak dalam perilaku yang nyata (Winkel, 1986:161).
M. Bukhori menjelaskan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau yang ditunjukkan oleh siswa sebagai hasil belajar, baik berupa angka maupun huruf serta tindakan yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu yang di dalamnya terdapat nilai-nilai positif atau keagamaan (Bukhori, 1983: 8).
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur’an dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman (DepDikNas, 2003:7). Menurut  al-Ghazaly sebagaimana diungkapkan oleh Fatiyah Hasan Sulaiman bahwa pendidikan sebagai sarana untuk menyebarluaskan keutamaan, sebagai media untuk mendekatkan umat manusia kepada Allah dan sarana kemaslahatan untuk membina umat (Fatiyah, 1993:11).
Dengan demikian prestasi Pendidikan Agama Islam adalah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa yang merupakan tolok ukur keberhasilan siswa dalam bidang PAI. Diharapkan dengan prestasi ini siswa tidak hanya mampu memahami dan menghayati ajaran-ajaran agama Islam tetapi juga dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berfikir maupun ketrampilan motorik.
Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor intrinsik) individu antara lain minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif, sedangkan faktor dari luar diri (faktor ekstrinsik) individu antara lain faktor lingkungan yaitu alam, sosial budaya dan keluarga dan faktor instrumental  yaitu kurikulum, program, sarana dan fasilitas dan guru (Djamarah, 2002:144). Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid untuk mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya (Hakim, 2000:11).
Tolak ukur kemampuan anak didik dalam memahami materi ajar di bagi menjadi 3 aspek pokok  yang di kemukakan oleh  Blooms sebagaimana dikutip Mudjiono (2002; 35) yaitu kemampuan pemahaman  kognitif yaitu  menekankan pada aspek intelektual dan memiliki jenjang dari yang rendah sampai yang tinggi. Pemahaman secara kognitif  ini meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Aspek kemampuan pemahaman yang kedua adalah afektif yaitu sikap, perasaan emosi dan karakteristik moral yang diperlukan untuk kehidupan di masyarakat.. Dimensi ketiga dari aspek pemahaman ini adalah pemahaman secara psikomotorik yaitu  pemahaman yang menekankan pada gerakan-gerakan jasmaniah dan kontrol fisik. Kecakapan-kecakapan fisik ini dapat berupa pola-pola gerakan  atau keterampilan fisik, baik keterampilan fisik halus maupun kasar.
Dalam penelitian ini, penulis memilih SMP Negeri 3 Demak. Siswa SMP Negeri 3 Demak telah mengenal ajaran Islam sebelum memasuki SMP Negeri 3 Demak, baik melalui pendidikan formal seperti belajar di madrasah ibtidaiyyah, maupun non formal seperti belajar ilmu agama di pondok pesantren terdekat. Para siswa SMP Negeri 3 Demak juga sudah bisa membaca dzikir Asma’ al-Husna sebelum pelajaran dimulai, melaksanakan kegiatan Baca Tulis Al-Quran (BTA) pada jam pelajaran terakhir, dan shalat zhuhur berjamaah sebelum pulang serta kegiatan ekstra kurikuler keagamaan, Siswa lulusan SMP Negeri 3 Demak juga berhasil menempuh ujian masuk di SMA Negeri sekitar 60% setiap tahunnya. (Observasi dan wawancara dengan Nur Rohman, S.Ag., 13 Juli 2009). Di sisi lain, karena keterbatasan jumlah jam pelajaran PAI di kelas, maka tidak mungkin guru memberikan materi pendidikan keagamaan secara detail kepada siswa, maka guru PAI diharapkan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran yang inovatif serta mampu menciptakan dan mengendalikan kelas agar tetap kondusif ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan argumen-argumen di atas, bahwa kreativitas guru dengan dibekali kemampuan mengelola kelas yang baik merupakan salah satu upaya yang dilakukan guru, khususnya guru PAI dalam meningkatkan prestasi belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam. Sehingga nantinya guru diharapkan lebih banyak berdiskusi dengan guru lain untuk mengembangkan kreativitas mengajar dan kemampuan mengelola kelas agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dari latar belakang masalah di atas, penulis ingin mengetahui apakah benar kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar PAI siswa, maka penelitian ini akan penulis susun dalam sebuah penelitian tesis dengan judul ” Studi Korelasi Antara Kreativitas Guru PAI dan Kemampuan Mengelola Kelas dengan Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Demak”.


Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, yang menjadi fokus permasalahan adalah :
Adakah korelasi antara kreativitas guru PAI dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak
Adakah korelasi antara kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak
Adakah korelasi antara kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak

Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut.
Untuk mengetahui korelasi antara kreativitas guru PAI dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak
Untuk mengetahui korelasi antara kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak
Untuk mengetahui korelasi antara kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak




Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran terhadap dunia pendidikan, khususnya tentang pentingnya kreativitas guru PAI  dan kemampuan mengelola kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa bidang studi PAI.
Manfaat Praktis
Penelitian ini sebagai bahan masukan bagi guru PAI, khususnya di SMP Negeri 3 Demak agar selalu meningkatkan kreativitas mengajarnya dalam proses pembelajaran di kelas dan mampu mengelola kelas dengan baik dan benar agar tercipta suasana yang kondusif sehingga pada akhirnya siswa memperoleh prestasi belajar PAI yang tinggi.

Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris (Suryabrata, 1983:75). Hipotesis dalam hal ini berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
Hipotesis dalam statistik, terdapat hipotesis kerja atau alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho). Hal ini mempunyai makna bahwa Ha adalah adanya korelasi positif yang signifikan antara variabel X1 (kreativitas guru PAI) dan variabel X2 (pengelolaan kelas) dengan  variabel Y (prestasi belajar PAI siswa). Korelasi positif yang dimaksud di sini adalah jika kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas baik maka prestasi belajar PAI siswa meningkat dan sebaliknya. Sedangkan Ho adalah tidak adanya korelasi positif yang signifikan antara variabel X1 (kreativitas guru PAI) dan variabel X2 (pengelolaan kelas) dengan  variabel Y (prestasi belajar PAI siswa). Dengan kata lain jika kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas baik maka prestasi belajar PAI siswa rendah dan sebaliknya.
Berdasarkan pernyataan di atas maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: ”Ada korelasi positif dan signifikan antara kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam  (PAI ) Siswa”.

Kajian Pustaka
Kajian Penelitian yang relevan
Penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini telah dilakukan oleh Pertama, Ahmad Sudja’i (2006) dengan judul Pengaruh Kreativitas dan Disiplin Kerja Terhadap Kemampuan Melaksanakan Supervisi Kepala Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Semarang. Hasil penelitian ini adalah: 1) Kreativitas berpengaruh positif terhadap kemampuan melaksanakan supervisi Kepala Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Semarang, 2) Disiplin kerja berpengaruh positif terhadap kemampuan melaksanakan supervisi Kepala Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Semarang, 3) Kreativitas dan disiplin kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan melaksanakan supervisi Kepala Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Semarang.
Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian di atas berhubungan dengan teori supervisi pendidikan, dan hasil penelitiannya lebih menekankan pada kemampuan seseorang dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Semarang dan keberhasilannya akan dipengaruhi beberapa aspek, salah satunya adalah aspek kreativitas dan aspek kedisiplinan kerja. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis berhubungan dengan teori prestasi belajar, teori kreativitas dan teori pengelolaan kelas, yaitu prestasi belajar siswa yang akan dipengaruhi dari faktor luar (ekstrinsik), yaitu kemampuan guru dalam mengajar, khususnya kreativitas guru PAI dalam mengajar dengan disertai kemampuan mengelola kelas yang baik dan benar.
Kedua, Fahrurrozi (2007) dengan judul Hubungan Sikap Profesi Guru dan Kreativitas dengan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Tsanawiyah Se-Kab. Grobogan. Hasil penelitian ini adalah: 1) Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap profesi guru dengan kinerja guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Tsanawiyah Se-Kab. Grobogan, 2) Terdapat hubungan yang signifikan antara kreativitas dengan kinerja guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Tsanawiyah Se-Kab. Grobogan, 3) Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara sikap profesi guru dan kreativitas dengan kinerja guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Tsanawiyah Se-Kab. Grobogan.
Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian di atas berhubungan dengan teori etos kerja, yaitu dengan adanya sikap profesi guru dan kreativitas mempunyai kedudukan yang secara bersamaan, yang sama-sama mempunyai keterkaitan dengan kinerja guru PAI khususnya di Madrasah Tsanawiyah Se-Kab. Grobogan. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis berhubungan dengan kegiatan proses belajar mengajar di kelas, yaitu lebih menekankan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) salah satunya adalah seorang guru mampu melakukan kegiatan pengelolaan kelas agar supaya kondisi kelas tetap kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.
Ketiga, Nur Asyiah (2008) dengan judul Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Kreativitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Nu Sunan Katong Kaliwungu. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara motivasi belajar dan kreativitas belajar terhadap hasil belajar bahasa arab di Madrasah Tsanawiyah NU Sunan Katong Kaliwungu.
Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian di atas berhubungan dengan teori belajar, yaitu hasil belajar siswa akan dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya unsur dari dalam siswa itu sendiri yaitu motivasi belajar dan kreativitas belajar siswa, khususnya pada pelajaran bahasa arab di Madrasah Tsanawiyah NU Sunan Katong Kaliwungu. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis berhubungan dengan kompetensi guru dalam bidang profesionalitas, yaitu ketika guru mengajar siswa di kelas dengan menerapkan kegiatan ketrampilan mengajar yang disertai dengan tindakan pengelolaan kelas.
Dari kajian pustaka tersebut di atas, meskipun terdapat beberapa penelitian dengan variabel yang sama, namun belum ada penelitian yang bertema sama dengan penelitian yang penulis teliti.
Kerangka Teoritik
Kreativitas Guru dan Prestasi Belajar Siswa
Guru adalah tokoh yang bermakna dalam kehidupan siswanya. Guru tidak hanya sebagai pengajar, melainkan sebagai pendidik dalam arti yang sebenarnya. Peluang untuk memunculkan siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif mengandung pengertian ganda, yakni guru yang secara kreatif mempu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dan juga guru yang senang melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam hidupnya. Guru senantiasa memegang posisi kunci dalam dalam proses pembelajaran. Sebagai pengajar guru berperan menciptakan suasana yang kondusif, sehingga mendorong berfungsinya proses mental pra kesadaran yang merupakan dasar bagi lahirnya kreasi siswanya (Hasan, 2001: 200).
Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas juga merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial (Munandar, 1999: 28).
Peran guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah guru berperan sebagai fasilitator. Guru harus memahami dan terbuka pada anak. Bakat anak tidak datang secara simultan atau tiba-tiba, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum alam yang ada, bahwa manusia tumbuh dan berkembang setahap demi setahap. Anak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, jika anak memiliki kesulitan-kesulitan dalam kegiatan belajar di sekolah, guru berusaha mengatasi atau mencari alternatif pemecahannya dengan memilih atau memberikan kegiatan-kegiatan yang disukai atau diminati anak (Hasan, 2001: 205).
Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, guru tidak mengawasi, tetapi mengarahkan kepada anak untuk mencapai tujuan, guru harus bisa menciptakan lingkungan di dalam kelas yang dapat merangsang belajar kreatif anak supaya anak merasa aman dan kerasan berada di dalam kelas, dengan begitu kreativitas anak dapat berkembang dengan baik (Sardiman, 2001: 120).
Kegiatan belajar mengajar di sekolah berorientasi pada pencapaian prestasi belajar akademik yang tinggi oleh semua siswa. Kreativitas siswa apabila memperoleh peluang untuk berkembang di dalam iklim belajar mengajar yang kondusif, maka prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai. Karena kreativitas guru dalam mengajar, dijadikan sebagai asumsi yang dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar siswa (Munandar, 1992: 42).
Guru yang mempunyai kreativitas yang tinggi akan mampu memberikan motivasi belajar kepada anak didiknya. Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar, sehingga prestasi belajar pendidikan agama Islam akan tercapai dengan hasil yang baik (Muhaimin, 2002: 38).

Pengelolaan Kelas dan Prestasi Belajar Siswa
Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru sering kali mengalami hambatan terutama kegaduhan di dalam kelas yang dilakukan oleh siswa. Keributan dan kegaduhan yang terjadi di kelas apabila tidak segera diatasi akan mengganggu pelaksanaan program pembelajaran dan dapat menghambat pencapaian target kurikulum. Oleh karena itu suasana kelas harus dijaga supaya tetap kondusif untuk pelaksanaan program pengajaran. Dengan demikian untuk mencapai tujuan pengajaran di sekolah diperlukan guru yang mampu mengelola kelas dengan baik (Purnomo, 2003:10).
Pengelolaan kelas merupakan usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan kegiatan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan lancar sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai (Toenlioe, 1992: 16). Kondisi belajar yang optimal dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Kemampuan dalam mengelola kelas merupakan salah satu syarat profesionalisme guru, oleh karena itu keberhasilan dalam mengelola kelas dapat dijadikan indikator penting atas tercapainya tujuan pengajaran (Hasibuan dan Moedjiono, 1995:82).
Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, khususnya siswa tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam maupun dari luar, yang keduanya memiliki peranan penting dalam menentukan tujuan belajar. Faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa salah satunya adalah motifasi. Motivasi merupakan gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Djamarah, 2002: 114).
Secara umum ada dua faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu faktor dari dalam diri siswa (instrinsik) dan faktor dari luar diri siswa (ekstrinsik). Kegiatan pengelolan kelas termasuk salah satu bagian dari motivasi ekstrinsik. Adapun motivasi ekstrinsik merupakan sekumpulan motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Guru harus pandai mempergunakan motivasi ekstrinsik dengan benar agar supaya proses interaksi edukatif di kelas dapat tercapai.   Berbagai macam cara dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar anak didiknya, salah satunya adalah dengan cara mengelola kelas dengan segala komponennya (Hakim, 2000:15).
Secara teoritik dapat diketahui bahwa kegiatan pengelolaan kelas merupakan kemampuan atau ketrampilan guru, dalam mengelola siswa di kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas yang menunjang program pengajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Begitu juga dalam pendidikan agama Islam bahwa kegiatan pengelolaan kelas oleh guru PAI memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar. Dengan demikian untuk mencapai tujuan pengajaran di sekolah diperlukan guru yang mampu mengelola kelas dengan baik.

Kreativitas Guru PAI, Pengelolaan Kelas dan Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan adalah suatu proses pemberian bimbingan terhadap anak oleh orang dewasa dengan sengaja untuk mempengaruhi potensi anak agar mencapai kedewasaan (Syafaruddin, 2005: 24).
Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, guru tidak hanya mengawasi, tetapi mengarahkan kepada anak untuk mencapai tujuan, guru harus bisa menciptakan lingkungan di dalam kelas yang dapat merangsang belajar kreatif anak supaya anak merasa nyaman berada di dalam kelas, sehingga dengan begitu kreativitas anak dapat meningkatkan hasil prestasi belajarnya (Sardiman, 2001: 127).
Keberhasilan seorang guru dalam mengajar ditentukan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal terdiri atas motivasi, kepercayaan diri, dan kreativitas guru itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal lebih ditekankan pada sarana serta iklim sekolah yang bersangkutan. Setiap kemajuan yang diraih manusia selalu melibatkan kreativitas. Ketika manusia mendambakan produktivitas, efektivitas, efisiensi, dan bahkan kebahagiaan yang lebih baik dan lebih tinggi dari apa yang sebelumnya di capai, maka kreativitas dijadikan dasar untuk menggapainya (Munandar, 1999:10).
Guilford menyatakan sebagaimana dikutip Munandar, kreativitas diartikan sebagai kemampuan berpikir divergen untuk menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan yang sama Kreativitas juga merupakan produksi suatu respon atau karya yang baru dan sesuai dengan tugas yang dihadapi. Utami Munandar menyusun rumusan operasional dari kreativitas sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, merinci) suatu gagasan.  Menurut Munandar, kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas dan elaborasi merupakan indikator kemampuan berpikir kreatif. Lebih lanjut, Munandar menyatakan bahwa ciri-ciri kreatif yang penting dalam menentukan kemampuan kreatif seorang individu adalah rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru dan dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain (Munandar, 1992:30).
Keterampilan mengelola kelas ialah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial (Hasibuan dan Moedjiono, 1995:83).
Tindakan pengelolaan kelas merupakan tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa tindakan pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar oleh peserta didik rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar. Sedangkan tindakan lain adalah tindakan korektif terhadap tingkah laku peserta didik yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung (Rohani, 2004:127).
Berdasarkan penelitian Edmund, Emmer, dan Carolyn Evertson sebagaimana dikutip oleh Sri Esti Wuryani (2006:264), bahwa pengelolaan kelas didefinisikan sebagai berikut :
Tingkah laku guru yang dapat menghasilkan prestasi siswa yang tinggi karena keterlibatan siswa di kelas.
Tingkah laku siswa yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain.
Menggunakan waktu belajar yang efisien.
Zaenal Arifin, mengemukakan bahwa kata ”prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi ”prestasi” yang berarti ”hasil usaha” (Zaenal Arifin, 1990:3). Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Slameto, 2003:2). Jadi prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau yang ditunjukkan oleh siswa sebagai hasil belajar, baik berupa angka maupun huruf serta tindakan yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu (Bukhori, 1983: 8).
Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor intrinsik) individu antara lain minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif, sedangkan faktor dari luar diri (faktor ekstrinsik) individu antara lain faktor lingkungan yaitu alam, sosial budaya dan keluarga dan faktor instrumental  yaitu kurikulum, program, sarana dan fasilitas dan guru (Djamarah, 2002:144).
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, menghayati, memahami dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Muhaimin, 2002:30).
Dari teori-teori di atas dapat diketahui bahwa guru merupakan salah satu dari faktor ekstrinsik yang dapat memberikan pengaruh pada prestasi belajar siswa. Seorang guru yang mempunyai kreativitas tinggi serta mampu mengelola kelas dengan baik dan benar yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas berfungsi menunjang program pengajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Begitu juga dalam pendidikan agama Islam bahwa seorang guru PAI yang kreatif dan mampu melakukan kegiatan pengelolaan kelas dengan baik maka akan menentukan hasil prestasi belajar siswa di bidang PAI.

Metode Penelitian
Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research). Sifat penelitihan ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang penyajian datanya berupa angka-angka dan menggunakan analisa statistik biasanya bertujuan untuk menunjukkan hubungan antara variabel, menguji teori dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediksi (Sugiyono, 2006a:8).
Variabel Penelitian
Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering pula dinyatakan variabel penelitian sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti (Suryabrata, 1995:72). Dalam penelitian ini ada tiga variabel yaitu dua variabel bebas atau independent variabel (X1,X2) , yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain disebut juga variabel prediktor, dan variabel terikat atau dependent variabel (Y) yaitu variabel yang dipengaruhi. Sesuai dengan masalah, penelitian ini melibatkan tiga variabel, yaitu prestasi belajar PAI siswa, sebagai kriteria atau variabel terikat (Y), kemudian kreativitas guru PAI sebagai prediktor pertama atau variabel bebas pertama (X1) dan kemampuan mengelola kelas, sebagai prediktor kedua atau variabel bebas kedua (X2).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah :
Kreativitas guru PAI (Munandar, 1992:50), dengan indikator-indikator sebagai berikut :
Ketrampilan mengajar
Motivasi tinggi
Demokratis
Percaya diri
Berpikir divergen
Kemampuan mengelola kelas (Rohani, 2004:127), dengan indikator-indikator sebagai berikut :
Pengaturan tempat duduk siswa
Pengaturan alokasi waktu belajar
Perhatian guru pada siswa
Pemberian tanggung jawab kepada siswa
Memberi arahan kepada siswa
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam (Muhaimin, 2002:72), dengan indikator :
Nilai hasil belajar, pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik baik hasil tes formatif, sub sumatif maupun sumatif  yang dapat dilihat dari hasil raport.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005:55). Populasi merupakan jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari yang meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu.
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang berjumlah 240 siswa. Adapun alasan penulis memilih kelas VIII adalah karena usia siswa tersebut menurut Peaget_ (dalam Hurlock, 2004:206) bahwa mereka berada pada masa adolescence. Awal masa remaja bermula dari usia 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun. Dalam usia ini terjadi proses kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.
Sumadi Suryabrata yang mengutip pendapatnya Montessori, memasuki periode III (13 – 18 tahun), adalah periode penemuan diri dan kepekaan rasa sosial. Dalam kondisi seperti ini psikologis anak relatif kecil untuk berbohong, karena anak mulai mengembangkan kepribadiannya serta sadar akan hak dan kewajibannya yang harus dipatuhi (Suryabrata, 2002 :189).
Sampel merupakan sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2005:58). Dalam ketentuan pengambilan sampel menurut Suharsimi Arikunto yaitu jika subyeknya kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya disebut penelitian populasi, namun jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto, 2002:71). Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah 15% dari seluruh populasi yang berjumlah 240 siswa, sehingga diperoleh sampel sebanyak 36 responden.
Tehnik pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang sesuai dengan sumber data sebenarnya atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya, dengan istilah lain, sampel harus representatif (Margono, 2004:125). Dalam penelitian ini tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah tehnik Proportional Sistematic Random Sampling  dan berkelompok (Arikunto, 1991:128). Tehnik pengambilan sampel ini proporsional dengan mempertimbangkan jumlah murid di setiap kelas, yaitu penulis mengambil murid dalam jumlah yang sama dari tiap-tiap kelas dan dipilih seara acak. Teknik pengambilan sampel berkelompok karena keseluruhan populasi dikelompokkan ke dalam kelas-kelas yaitu kelas VIII A, kelas VIII B , kelas VIII C, Kelas VIII D, kelas VIII E dan kelas VIII F. Untuk memperoleh 36 responden dari 240 siswa, penulis mengambil 6 siswa dari tiap-tiap kelas yang masing-masing berjumlah 40 siswa, dan mereka dipilih secara acak.
Teknik Pengumpulan Data
Beberapa teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Angket atau kuesioner
Angket merupakan suatu daftar pertanyaan atau pernyataaan tentang topik tertentu yang diberikan kepada subyek, baik secara individu atau kelompok, untuk mendapatkan informasi tertentu, prefensi, keyakinan, minat dan perilaku (Hadjar, 1999: 181). Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang kreativitas guru PAI dan kemampuan guru PAI dalam mengelola kelas di SMP Negeri 3 Demak.
Pengukuran skala ini mengikuti skala likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan pesrsepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang disebut sebagai variabel penelitian (Sugiyono,2007:133-134). Dalam penelitian ini menggunakan empat alternatif jawaban: "selalu", "sering", "kadang-kadang", "tidak pernah". Skor jawaban mempunyai nilai antara 1 sampai 4.
Observasi
Observasi adalah kegiatan pencatatan dan pengamatan yang disengaja dan sistematik tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala yang muncul pada objek penelitian (Mardalis, 2003:63). Observasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis (berkerangka) mulai dari metode yang digunakan dalam observasi sampai cara-cara pencatatannya (Hadi, 1992:147), dilengkapi dengan format/blangko pengamatan sebagai instrumen yang berisi item-item tentang kejadian yang digambarkan akan terjadi (Arikunto, 2002:185), sehingga penulis tinggal memberikan tanda terhadap kejadian yang muncul.
Observasi digunakan penulis untuk memperoleh data tentang kreativitas guru PAI dan pelaksanaan pengelolaan kelas guru PAI di SMP Negeri 3 Demak dengan cara mengamati dan mencatat seluruh indikator yang akan diteliti.
Wawancara atau Interview
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang digunakan penulis untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui proses tanya jawab antara Information Hunter dengan Information Supplyer (Hadi, 1992:192), Dalam wawancara ini penulis akan menggunakan bentuk semi structured. Tekniknya mula-mula penulis menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam untuk mengetahui keterangan lebih lanjut (Arikunto, 2002:201).
Dari wawancara ini diharapkan akan mendapatkan informasi-informasi yang lebih jelas, lengkap dan sedalam-dalamnya tentang kreativitas guru PAI dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan kelas guru PAI. Metode ini penulis tujukan kepada guru bidang studi PAI di SMP Negeri 3 Demak yang secara langsung berkaitan dengan kreativitas guru dalam mengajar dan pelaksanaan pengelolaan kelas, para siswa, dan kepala sekolah selaku supervisor di sekolah tersebut.
Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data-data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasati, notulen rapat, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2002:206).
Metode dokumentasi diperlukan sebagai metode pendukung untuk mengumpulkan data, karena dalam metode ini dapat diperoleh data nilai prestasi PAI yang terdapat dalam raport siswa, data-data histories, seperti sejarah berdirinya SMP Negeri 3 Demak, visi dan misi sekolah, daftar guru PAI, daftar siswa, dokumen seperti jurnal, agenda, serta data lain yang mendukung penelitian ini.
Metode Analisis Data
Pengujian Persyaratan Analisis
Sesuai dengan jenis penelitian ini, maka sebelum teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis diterapkan, terlebih dahulu data dideskripsikan dengan mengungkapkan mean, median, modus, dan standar deviasi, juga disajikan daftar distribusi frekuensi dan histogram. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas dengan menggunakan program SPSS 11.5 for Windows.
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis ini menggunakan teknik Analisys of Variance Test – ANOVA Test atau Pengujian Analisis Varian. ANOVA tes dibentuk atas dasar cuplikan-cuplikan acak sederhana yang ditarik secara  bebas dari setiap populasi. Pengujian itu beranggapan bahwa pupulasi-populasi disebarkan secara normal dan memiliki varian-varian yang sama (Soegiarto M, 2004: 309). ANOVA biasa digunakan untuk membandingkan mean dari dua kelompok atau lebih dari kelompok sampel yang telah dipilih secara acak. Secara simultan perbedaan mean antar pasangan kelompok diuji untuk mengetahui apakah ada satu atau lebih mean yang berbeda dari satu atau lebih mean yang lain. Uji ANOVA ini juga biasa disebut sebagai One Way Analisys of Variance (Ibnu Hadjar,1999: 256).
Dasar pemikiran yang mendasari analisis varian lebih baik ditunjukkan dengan suatu pembahasan simbolis. Analisis varian yang nyata dengan jumlah responden 36 yang dibagi dalam 3 kelompok belajar, dapat digambarkan pada tabel berikut ini :
X1.2
Y

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
88
82
81
83
81
82
80
79
85
90
87
89

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
84
80
81
83
80
83
85
82
86
81
88
90

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
80
78
79
78
82
79
81
77
78
80
80
79


 Keterangan :
X1.2 : Variabel kreativitas guru PAI dan kemampuan
 mengelola kelas
Y : Variabel prestasi belajar PAI
(1,2,3,4) : Variabel kategori yang dibedakan dalam kelompok
 belajar
(77,78,79…  dst) : nilai PAI siswa yang dibedakan dalam kelompok
 belajar
Adapun langkah analisisnya adalah sebagai berikut:
Asumsi yang digunakan adalah subjek diambil secara acak menjadi satu kelompok n. Distribusi mean berdasarkan kelompok normal dengan keragaman yang sama. Statistik uji-F yang digunakan dalam One Way ANOVA dihitung dengan rumus (k-1), uji F dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung (hasil output) dengan nilai Ftabel. Sedangkan derajat bebas yang digunakan dihitung dengan rumus (n-k), dimana k adalah jumlah kelompok sampel, dan n adalah jumlah sampel. p-value rendah untuk uji ini mengindikasikan penolakan terhadap hipotesis nol, dengan kata lain terdapat bukti bahwa setidaknya satu pasangan mean tidak sama (Soegiarto M, 2004: 311).
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai F dari perhitungan dengan nilai F yang ada dalam tabel untuk tingkat kebebasan dan taraf  signifikansi tertentu. Bila nilai F yang diperoleh lebih kecil dari nilai F tabel, maka hipotesis nol diterima, berarti tidak ada perbedaan nilai rata-rata yang cukup signifikan antar masing-masing kelompok. Sebaliknya bila nilai F lebih besar, maka hipotesis nol ditolak, berarti ada perbedaan nilai rata-rata yang signifikan, setidaknya ada satu kelompok di antara seluruh pasangan kelompok subyek.
Sistematika Penulisan
Tujuan sistematika penulisan tesis adalah untuk lebih memudahkan memahami dan mempelajari isi tesis. Adapun sistematika penulisan tesis ini akan penulis rinci sebagai berikut :
Bab satu, berisi pendahuluan; menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.
Bab dua, berisi landasan teori, kerangka berpikir dan hipotesis penelitian. Adapun landasan teori berisi kreativitas guru meliputi: pengertian kreativitas, faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas, ciri-ciri kreativitas, karakteristik guru kreatif dan peranan guru. Pengelolaan kelas meliputi pengertian pengelolan kelas, tujuan pengelolaan kelas, pendekatan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas, komponen keterampilan pengelolaan kelas, usaha preventif masalah pengelolaan kelas. Pendidikan Agama Islam yang terdiri dari pengertian Pendidikan Agama Islam, landasan Pendidikan Agama Islam, tujuan dan fungsi Pendidikan Agama Islam, pendekatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pengorganisasian materi Pendidikan Agama Islam. Pembahasan berikutnya adalah prestasi belajar yang terdiri dari pengertian prestasi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dan faktor-faktor yang menghambat prestasi belajar; Kajian penelitian relevan; Kerangka berpikir meliputi korelasi antara kreativitas guru PAI dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam, korelasi antara kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam, korelasi antara kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam; dan Pengajuan hipotesis penelitian.
Bab tiga, berisi metodologi penelitian meliputi jenis dan sifat penelitian, definisi operasinal, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan metode analisis data.
Bab empat, berisi hasil penelitian meliputi deskripsi data, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis, pembahasan hasil penelitian meliputi hasil uji korelasi antara kreativitas guru PAI dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam, hasil uji korelasi antara kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam, hasil uji korelasi antara kreativitas guru PAI dan kemampuan mengelola kelas dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam; interpretasi hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.
Bab lima, berisi penutup menjelaskan tentang kesimpulan dan saran-saran dalam penelitian. Dan di akhir tesis ini penulis sertakan daftar pustaka, lampiran-lampiran, data kuantitatif dan sebagainya. Selain itu penulis juga sertakan curriculum vitae/biografi penulis sebagai pelengkap.





















DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Cet. 1 revisi, Bandung, CV Sinar Baru , 1987

Arifin, Zaenal, Evaluasi Instruksional Prinsip, Teknik, Prosedur, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1990

Arikunto, Suharsimi, 1991, Manajemen Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta.

, Pengelolaan Kelas dan Siswa sebuah pendekatan evaluatif, Cet. II Jakarta, Rajawali Press, 1988

            , Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, 2002

Asrori, Mohammad dan Mohammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2004

Bukhori, M. Teknik – Teknik Evaluasi dalam Pendidikan, Bandung, Jemmars, 1983

 Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Cet.III, Jakarta, Rineka Cipta, 2005

            , Psikologi Belajar, cet. ke-1, Jakarta, Rineka Cipta, 2002

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Cet. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2002

Campbell, David, Mengembangkan Kreativitas, (disadur Dian Paramesti Bahar dari Take the road to creativity and get off dead and), Yogyakarta, Kanisius, 1995

Djohar. MS, Guru, Pendidikan & Pembinaannya, Penerapannya dalam Pendidikan dan UU Guru, Yogyakarta, Grafika Indah, 2006

Ensiklopedi Indonesia, 4, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve

E. Ayan, Jordan, Bengkel Kreativitas (10 ways to free your creative spirit and find your generation), Bandung, Sinar Baru, 1995

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan), Bandung, Remaja Rosda Karya, 2004

Esti Wuryani, Sri, Psikologi Pendidikan, Cet.III, Jakarta, PT. Gramedia, 2006

G. Aleinikov, Andrei, Mega Kreativitas: 5 Langkah menuju cara berpikir seorang jenius, Yogyakarta, Niagara, 2002

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I, Yogjakarta,  Yayasan Fakultas Psikilogi UGM, 1992

_______, Metodologi Research II, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1995

_______, Statistik II, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1995

Hasan, Maimunah, Membangun kreativitas Anak secara Islami, Yogyakarta, Bintang Cemerlang, 2001

Hasan Sulaiman, Fatiyah, Sistem Pendidikan Versi Al Ghazaly, Cet. 2, terj. Fathur Rahman, Syamsuddin Asyrafi, Bandung, PT. Al Ma’arif, 1993

Hakim, Thursan, Belajar Secara efektif, Jakarta, Puspa Swara, 2000

Hadjar, Ibnu, Dasar-dasar metodologi penelitian kuantitatif dalam pendidikan, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 1999

Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, terj. Istiwidayanti dan Soedjarwo, Jakarta: Erlangga, 2004

James, Jenifer, Thinking in the future tense (Berpikir ke depan menyongsong millennium baru), Jakarta, Gramedia, 1998

Jawad, M. Abdul, Mengembangkan Inovasi dan Kreativitas berfikir pada diri dan organisasi anda, Bandung, PT. Syamil Cipta Media, 2002

J.J. Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Cet. VI, Bandung; PT Remaja Rosdakarya, 1995

Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, cet. ke-3, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1995

L. Good, Thomas dan Jere E. Brophy, Educational Psychology, New York, Longinan, 1990

Majid, Abdul, dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004

Malik Fajar, A, Holistika Pemikiran Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005

Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Al-Ma’arif, 1971

M. Echols, John Hasan Shadly, Kamus Inggris Indonesia, Cet XXIII, Jakarta, Gramedia, 1996

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Cet.VI, Jakarta, Bumi Aksara, 2003

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2004

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2002

Munandar, S.C.Utami, Krerativitas & Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1999

               , Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta, PT Gramedia Widia Sarna Indonesia, 1992

               , Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999

Nashori, Fuad & Rachmy Diana Mucharam, Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami, Yogyakarta, Menara Kudus, 2002
Nasution, S. Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, 1995

Oemar, Hamalik, Holistika Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Raja Grafindo, 2005

_______, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002

Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP & MTs, Jakarta, Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2003

P. Purnomo, Strategi Pengajaran, Surakarta, INTHEOS, 2003

Priyadarma, Triguna, Kreativitas dan Strategi, Jakarta, PT. Golden, 2001

Roestiyah N.K, Didaktik Metodik, Jakarta, PT Bina Aksara, 1989

Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, Cet. II, Jakarta; PT Rineka Cipta, 2004

Rohani, Ahmad dan Abu Ahmadi, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Di Sekolah, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

Rose, Colin dan Malcolm J. Nichol, Accelerated Learning for the 21 Century: (Cara Belajar Cepat di Abad XXI), Bandung, Nuansa, 1997

Salam, Burhanudin, Pengantar Paedagogik, Jakarta, Rineka Cipta, 2002

Santoso, Singgih, Mengolah Data  Statistik Secara Profesional, Jakarta, PT. Elek Media Komputindo, 2002

Sardiman AM, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2001

Semiawan, Conny dan Utami Munandar, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Menengah, Jakarta, Gramedia, 1990

Semiawan, Conny A.F. Tangyong, dkk, Pendekatan Ketrampilan Proses, Cet.V, Jakarta, Gramedia, 1989
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, cet. ke-4., Jakarta, Rineka Cipta, 2003

Soegiarto M, Statistik Lanjutan, Jakarta, Rineka Cipta, 2004

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Bandung, Alfa Beta, 2007

               , Statistika untuk Penelitian, Bandung, Alfa Beta, 2005

Sumiyatiningsih, Dien, Mengajar dengan Kreatif dan Menarik, Yogyakarta, Andi Offset, 2006

Supriyadi, Dedi, Kreativitas Kebudayaan dan Perkembangan Iptek, Jakarta, Alfa Beta, 1996

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995

                , Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2002

Syafaruddin, Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, Ciputat, Quantum Learning, 2005

Syaudih Sukmadinata, Nana, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung:  PT. Remaja Rosdakarya, 2004

Toenlioe, Teori dan Praktek pengelolaan kelas, Surabaya; Usaha Nasional, 1992

Wahib, Abdul, Mengajar dan Menilai Secara Kreatif, Seminar, Semarang, 25 April 2007

Warsito, Pengembangan Instrumen Kreativitas, Jakarta, Rineka Cipta, 2000

Winkel,W.S. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, Jakarta, Gramedia, 1986

Zuhairi, dan Abdul Ghofir, Metodik Khusus Pendidikan Agama, cet. ke-8, Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1983





STUDI KORELASI ANTARA KREATIVITAS GURU PAI DAN KEMAMPUAN MENGELOLA KELAS DENGAN PRESTASI
BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN
 AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 3 DEMAK

BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Perumusan Masalah 8
Tujuan Penelitian 9
Manfaat Penelitian 9
Kajian Penelitian Relevan 10
Sistematika Penulisan 12

BAB II. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
LANDASAN TEORI
Kreativitas Guru 15
Pengertian Kreativitas 15
Ciri-Ciri Kreativitas 19
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kreativitas 22
Tujuan Guru Kreatif 28
Karakteristik Guru Kreatif 30
Peranan Guru PAI 39
Pengelolaan Kelas 42
Pengertian Pengelolaan Kelas 42
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas 45
Tujuan Pengelolaan Kelas 47
Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas 49
Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas 51
Usaha Preventif Masalah Pengelolaan Kelas 58
Prestasi Belajar 64
Pengertian Prestasi Belajar 64
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 66
Pendidikan Agama Islam 76
Pengertian Pendidikan Agama Islam 76
Landasan Pendidikan Agama Islam 77
Tujuan Pendidikan Agama Islam 79
Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 79
Pengorganisasian Materi Pendidikan Agama Islam 81
PENGAJUAN HIPOTESIS PENELITIAN 83

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Sifat Penelitian 85
Populasi dan Sampel Penelitian 85
Variabel dan Instrumen Penelitian 87
Uji Coba Penelitian
Teknik Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Pengujian Persyaratan Analisis
Pengujian Hipotesis
Interpretasi Hasil Penelitian
Pembahasan
Keterbatasan Penelitian

BAB V PENUTUP
Kesimpulan
Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

KISI-KISI INSTRUMEN PENGUMPUL DATA

Variabel (Xl) : Kreativitas Guru PAI
Kisi-Kisi Penyusunan Angket Kreativitas Guru PAI
NO
INDIKATOR
JUMLAH SOAL POSITIF
JUMLAH SOAL NEGATIF
JUMLAH  ITEM SOAL

1
Ketrampilan mengajar
5
1
6

2
Motivasi tinggi
4
2
6

3
Demokratis
3
3
6

4
Percaya diri
2
4
6

5
Berpikir divergen
3
3
6

JUMLAH
30



Variabel (X2) : Kemampuan Mengelola Kelas
Kisi-Kisi Penyusunan Angket Kemampuan Mengelola Kelas
NO
INDIKATOR
JUMLAH SOAL POSITIF
JUMLAH SOAL NEGATIF
JUMLAH  ITEM SOAL

1
Tempat duduk siswa
4
2
6

2
Alokasi waktu belajar
3
3
6

3
Perhatian guru kepada siswa
5
1
6

4
Pemberian tanggung jawab kepada siswa
5
1
6

5
Memberi arahan kepada siswa
2
4
6

JUMLAH
30



Kisi-Kisi Penilaian / Penskoran Angket
SOAL POSITIF
SOAL NEGATIF

JAWABAN
SKOR / NILAI
JAWABAN
SKOR / NILAI

A
4
A
1

B
3
B
2

C
2
C
3

D
1
D
4









INSTRUMEN ANGKET: KREATIVITAS GURU PAI
Apakah guru PAI ketika membuka pelajaran mengajak siswa berdoa terlebih dahulu ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengawali materi melakukan appersepsi terlebih dahulu ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menjelaskan materi menggunakan alat bantu peraga ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan kesimpulan pada akhir materi pelajaran ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan tugas kepada siswa setelah materi selesai ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menjelaskan materi dengan metode yang sama seperti materi yang lain ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menunjukkan semangat ketika menjelaskan materi kepada siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memotivasi siswa agar supaya giat belajar ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika menjelaskan materi dengan suara yang jelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI setiap bulan memeriksa buku catatan siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar lupa membawa buku absensi siswa ?
 a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI setiap mengajar meninggalkan ruang kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI bersikap demokratis kepada setiap siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menghargai tugas-tugas siswa tanpa membedakan antara siswa satu dengan yang lain ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI dalam memberikan nilai kepada siswa dengan objektif ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menolak pendapat siswa sebagai masukan materi pelajaran ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menjauhkan siswa yang memiliki nilai rendah dari teman-temannya ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI marah apabila dikritik oleh siswa berkaitan dengan penyampaian materi ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menunjukkan sikap yang meyakinkan dalam mengajar ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menjelaskan materi di kelas dengan tenang dan penuh percaya diri ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI pernah menyampaikan materi tanpa ada persiapan sama sekali ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika menjelaskan materi dengan melihat buku pegangan ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI pernah menjawab pertanyaan siswa dengan sikap ragu ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menunda jawaban atas pertanyaan yang diajukan siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan banyak alternatif jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI mencari tambahan referensi sebagai upaya untuk menambah materi PAI ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memanggil orang tua siswa yang mempunyai masalah berkaitan dengan pembelajaran PAI di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI hanya menjelaskan materi tanpa memperhatikan tingkah laku siswa di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI membiarkan siswa yang mempunyai masalah berkaitan dengan tugas-tugas kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menyita buku catatan apabila ada salah satu siswa yang melakukan kesalahan karena tidak menyelesaikan tugasnya ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
















INSTRUMEN ANGKET : KEMAMPUAN MENGELOLA KELAS
Apakah guru PAI sebelum memulai materi terlebih dahulu mengatur tempat duduk siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan metode mengajar ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah tempat duduk yang ditentukan guru PAI bisa membantu pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah bentuk tempat duduk siswa berubah ketika guru PAI menjelaskan materi baru ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar lupa mengatur tempat duduk siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI membiarkan ketika tempat duduk siswa ada yang rusak ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI masuk di kelas tepat waktu sebelum jam pelajaran dimulai ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar memanfaatkan waktu pelajaran dengan sebaik-baiknya ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan jam tambahan ketika materi belum tuntas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI terlambat masuk kelas pada saat jam pelajaran dimulai ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah jam pelajaran PAI sering kosong karena guru PAI sibuk dengan pekerjaan sekolah ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI mengakhiri materi sebelum jam pelajaran selesai ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar memandang siswa secara seksama ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan perhatian kepada siswa yang tertinggal materi ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika menjelaskan materi dengan mengawasi tingkah laku siswa di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah sikap guru PAI bersahabat dengan semua siswa tanpa membeda-bedakan siswa satu dengan yang lain ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI sebelum memulai materi terlebih dahulu menanyakan siswa yang tidak masuk ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI membiarkan siswa yang gaduh ketika pelajaran sedang berlangsung ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar bertanggung jawab menjelaskan materi yang diajarkan di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI sebelum memulai pelajaran menanyakan tugas-tugas sebagai salah satu tanggung jawab belajar siswa ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI bertanggung jawab pada ketuntasan materi yang diajarkan dalam satu semester ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI menyuruh mengawasi siswa yang malas menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan rumah ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah

 Apakah guru PAI memberikan sangsi kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas-tugas belajar ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah dalam memberikan hukuman guru PAI membedakan antara siswa satu dengan siswa yang lain ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan arahan kepada siswa agar berperilaku sopan di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah teguran guru PAI berisi pengarahan dan petunjuk yang jelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI ketika mengajar membiarkan saja apabila ada siswa yang tiduran di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memberikan ancaman apabila ada siswa yang bertengkar di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memarahi siswa yang selalu terlambat masuk kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah
Apakah guru PAI memukul siswa apabila ada siswa yang selalu gaduh di kelas ?
a.  Selalu       b. Sering        c. Kadang-kadang   d. Tidak pernah









INSTRUMEN OBSERVASI

NO
KOMPONEN KETERAMPILAN
KATEGORI



BS
B
C
K

1.
Membuka pelajaran
Menarik perhatian siswa
Gaya mengajar siswa
Penggunaan alat-alat bantu peraga
Pola interaksi yang bervariasi

……


…………

…………

2.
Merencanakan kegiatan belajar mengajar
Menetapkan rencana pembelajaran
Memilih dan menentukan materi pelajaran
Melakukan appersepsi


……

………

………

3.
Keterampilan menjelaskan
Penggunaan kalimat yang sesuai dengan pemahaman anak didik
Penggunaan contoh yang sesuai dengan penjelasan materi
Memberikan ikhtisar butir yang penting
Menyimpulkan materi
Memberikan penekanan terhadap materi yang penting

















4.
Penyampaian materi secara sistematis

5.
Pengembangan materi pelajaran


6.
Penentuan metode pengajaran yang sesuai dengan materi





7.
Variasi dalam gaya mengajar
Suara: nada suara, volume suara, kecepatan bicara
Mimik dan gerak: gerak tangan dan badan untuk memperjelas pelajaran
Kontak pandang: melayangkan pandangan pada seluruh siswa
Perubahan posisi: bergerak
Memusatkan: tekanan pada butir yang penting

















8.
Pemberian motivasi
Memberikan pesan / nasehat supaya belajar lebih tekun





9.
Pemberian contoh
Pemberian contoh yang cukup untuk menanamkan pengertian dalam menjelaskan
Menggunakan contoh yang relevan dengan sifat dari penjelasan itu
Pemberian contoh disesuaikan dengan usia, pengetahuan, latar belakang peserta didik


















10.
Menutup pelajaran
Meninjau kembali
Memberikan kesimpulan





11.
Pemahaman terhadap peserta didik
Mengenali tingkah laku dan karakteristik siswa
Memperhatikan kemampuan siswa
Memperhatikan minat siswa

………


………

………

12.
Melakukan evaluasi
Pemberian butir evaluasi dan pengayaan pada siswa
Melakukan penskoran dan pengukuran
Melakukan penilaian
Melakukan perbaikan pengajaran


……


……


…………


…………

13.
Mengatur tempat duduk siswa
Posisi setengah lingkaran, berhadapan, berbaris ke belakang.
Sesuai materi pelajaran









14.
Alokasi waktu belajar
Mulai pelajaran tepat waktu
Tidak pernah kosong





15.
Pemberian tanggung jawab kepada siswa
Menyelesaikan tugas
Mentaati peraturan kelas
Menegur siswa bagi yang melanggar






Keterangan :
Kategori BS : Baik Sekali
Kategori B   : Baik
Kategori C   : Cukup
Kategori K   : Kurang









INSTRUMEN WAWANCARA
Apakah yang Anda persiapkan sebelum proses belajar mengajar di kelas dimulai.
Apakah Anda  menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada setiap materi yang diajarkan.
Apakah Anda membuat aturan dan kesepakatan dalam pembelajaran PAI
Hal-hal apa yang Anda lakukan sebagai guru PAI dalam proses belajar mengajar supaya materi dapat dan mudah diterima oleh siswa.
Apakah Anda menguasai setiap materi yang akan disampaikan.
Bagaimana Anda mengembangkan dan menyampaikan materi pelajaran secara sistematis.
Apakah dalam penggunaan media dan metode pengajaran sesuai dengan materi yang disampaikan.
Bagaimanakah Anda menciptakan suasana belajar yang kondusif dalam pembelajaran PAI
Bagaimana cara Anda mengatur tempat duduk siswa dalam pembelajaran PAI
Apakah Anda sebagai seorang guru, paham akan kepribadian serta kemampuan anak didik berkaitan dengan materi yang disampaikan
Apakah Anda selalu melakukan evaluasi setelah materi berakhir.
Apakah Anda selalu menanyakan  buku catatan PAI siswa
Sebagai wujud kreativitas guru, apakah yang dapat Anda lakukan dalam memunculkan ide-ide baru atau inovasi dalam pendidikan.
Apa yang dapat Anda lakukan untuk dapat mengembangkan kreativitas siswa.
Bagaimana cara Anda mengatasi masalah tingkah laku siswa yang melanggar peraturan dalam pembelajaran PAI




Sunday, 21 September 2014

CONTOH PENGELOLAAN USAHA BUSANA MODISTE

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menikmati waktu luang adalah hak dasar manusia. Begitu banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan di waktu luang bersama dengan teman maupun keluarga. ketika pekerjaan begitu menyita banyak waktu tentu akan  menambah tingkat stres dan waktu luang sangat diperlukan  dalam menetralkan banyaknya beban pikiran untuk kembali bekerja. Berinteraksi atau hanya sekedar berkumpul dengan keluarga maupun teman sangat membantu menyegarkan pikiran dari segala tuntutan pekerjaan.
 Sebagian orang atau mahasiswa terkadang ingin menghabiskan waktu luang di tempat-tempat yang nyaman dan indah, seperti di objek wisata. Banyak sekali tempat wisata yang bisa di kunjungi entah berupa wisata alam di pantai atau air terjun, wisata kuliner seperti Foodcord Royal Plaza di kota Surabaya yang menyediakan begitu banyak kuliner daerah, bisa juga wisata kerajinan tangan seperti  wisata membuat kaos yang disablon dengan mana kita.

Melihat dari hal yang disebutkan diatas, saya sangat tertarik dengan wisata kerajinan tangan karena tak hanya menghabiskan waktu luang dengan bersenang-senang namun bisa mempelajari dan membuat  sesuatu yang baru. Selain menambah pengalaman, tentang kerajinan tangan juga terdapat  nilai edukasi yang sangat bermanfaat dan bisa digunakan untuk kedepannya. Maka dari itu kami mengambil judul wisata kerajinan tangan “ First ”. Dalam memperoleh data saya mengobservasi tempat kerajinan tangan tepatnya kerajinan tangan yang berupa aksesoris yaitu “PETRA” yang bertempat di Kapasan, Royal plaza.

1.2  Tujuan
Mempelajari manfaat dari wisata kerajinan tangan, meneliti kendala pemasaran dalam memperkenalkan dan mengembangkan wisata kerajinan tangan, mencoba memberi alternative dalam mengatasi kendala yang ada dalam mengembangkan wisata kerajinan tangan. Serta member kursus kerajinan tangan.



BAB II
PEMBAHASAN
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jenis Usaha
Kami memilih First sebagai nama usaha yang  dikelola. “ First ” berasal dari kata dari kata B. inggris First yang memiliki arti awal atau pertama, diartikan sebagai kami yang masih baru merintis usaha dalam bidang busana.
Sehingga diharapkan “ First ” ini bisa menjadi usaha yang dapat mengalami kemajuan, dan usaha ini lebih mengutamakan kepuasan pelanggan/konsumen sehingga pelanggan bisa selalu menggunakan jasa layanan yang kami berikan.

B.     Lokasi
First Modistemembuka workcenter dikampus UNESA Fakultas Teknik Jurusan PKK ( Kampus Ketintang Gedung A3 Lt.1 Lab.PUB-Busana, Surabaya ).

C.    Jam  Kerja
Hari                 : jum’at
Tanggal           : 
Buka                : 07.00 WIB
Tutup               : 17.00 WIB

2.2  Visi misi “N samgie”
         Visi
         The art of inovasion
         One stop shopping
         Misi
         Menghadirkan tempat berbelanja aksesoris yang lengkap sekaligus menjadi wisata yang menghibur dan bernilai edukatif
         Selalu memberikan pelayanan terbaik dengan menyediakan segala bahan dan perlengkapan penungjang yang berkaitan dengan aksesoris demi kepuasan pelanggang
2.3  Konsep “N-Samgie”
“N-Samgie”mempunyai konsep unik dalam menunjang visi sebagai The Art of Inovasion yaitu dengan memberikan kursus-kursus bagi para pengunjung. Ada 2 jenis kursus yang diselenggarakan oleh ”N samgie”, yaitu
                     Kursus gratis
Kursus gratis ini meliputi kursus membuat kalung, anting dan bross. Dalam program Free Course ini pengunjung diajarkan teknik dasar merangkai asesoris berupa Kalung dan Anting.
Waktu :
         Kamis Pukul 16.00 WIB
         Jumat Pukul 16.00 WIB
 Fasilitas
         Bahan 100% Gratis
         Peralatan Dipinjamkan
                     Kursus non Gratis
Kursus non gratis dibagi menjadi 2 kelas kursus yaitu
         Intermediate Course:
Waktu: bisa kapan saja
Fasilitas: Peralatan dipinjamkan
Intermediate Course : Rp. 15.000/jam (di luar bahan)
         Bros kawat
         Coker
         Bonsai
         Gelang/ kalung Swarovski

          Advance Course
Waktu: bisa kapan saja
Fasilitas: alat dipinjamkan
            &nb sp;Advance Course I : Rp.75000 / jam ( biaya sudah termasuk bahan)
         Membuat ring, spiral, clasp.
         Teknik Coiling (melilit kawat)
         Teknik Herringbone (model duri ikan)
         Teknik Crochething (merajut kawat)
         Teknik Menganyam Kawat
         Teknik Memilin Kawat(membuat aneka perhiasan dari wire (kawat) seperti kalung, gelang, bangle, cincin, anting dll.)
2.4  Produk-produk “N-Samgie”
Produk yang ada di petra jewelry ini sangat beragam untuk membuat display produk menjadi lebih menarik, petra membuat pojok-pojok display yang dikelompokan sesuai dengan jenis aksesori
Pojok Textile
Berisis semua bahan-bahan untuk membuat aksesoris seperti mutiara air tawar, mutiara sintetis, batu alam, manik kayu, manic kuningan, rantai, pita, renda, rit, peralatan menjahit, merajut, sulam, kain-kain sintetis, keramik kaca, Swarovski,
Pojok ethnic
Banyak barang-barang etnik yang dipajang namun pojok ini didomonasi oleh karya-karya dari jojgakarta
Women stuff
Tersedia Perhiasan seperti kalung mutiara, kalung dengan manik-manik, anting,
Gelang, Cincin. Tersedia juga Dress, Clutch,Topi, bross, Sepatu, Kerudung, Belt, Scarft, Bando.
2.5  Promosi petra jewelry
Dalam berpromosi petra menggunakan media massa berupa media visual dan audio visual.
·         Media visual, petra membuat iklan di Koran, majalah, internet dan selembaran.
·         Media audio-visual, petra bekerja sama pengan media pertelevisian dengan menjadi sponsor.
Petra juga sering mengikuti pameran-pameran kesenian untuk memperkenalkan dan mengembangkan bisnisnya.

2.6  Kelebihan petra jewelry sebagai wisata kerajinan tangan
Petra jewelry sebagai salah satu wisata kerajinan tangan yang memiliki banyak kelebihan. Jika melihat dari visi ‘The Art of Inovasion’ , Petra Jewelry mengajak masyarakat khususnya kalangan remaja agar lebih berinovasi dalam menciptakan kerajinan tangan. Hal ini diwujudkan dengan mengadakan program-program kursus, baik berupa kursus gratis maupun kursus non gratis. Petra mampu mewujudkan sebuah wisata kerajinan tangan yang tak hanya menyediakan tempat berbelanja yang nyaman dan menghibur namun juga bernilai edukasi dan mengajarkan kepada pengunjung untuk tidak konsumtif, melalui program kursus gratis.
2.7  Kekurangan petra jewelry sebagai wisata kerajinan tangan
Dalam perjalanan mengembangkan bisnis aksesoris ini, ‘Petra Jewelry’ masih memiliki kekurangan, diantaranya:
         Kendala dalam mendapatkan bahan baku yang berkualitas sesuai dengan permintaaan dari pelanggang terkadang agak sulit. Hal ini disebabkan karena pasokan bahan baku aksesoris dari pengrajin tidak mencukupi bila harus memesan bahan yang sama maka diperlukan waktu yang cukup lama untuk membuat kembali bahan tersebut sedangkan pelanggan ingin dengan segera mendapatkan bahan tersebut
         Terkadang ada bahan baku aksesoris yang dibuat dalam jumlah yang terbatas, karena pengrajin membuat model bahan baku yang lain agar lebih variatif. Namun terkadang design bahan baku baru dari pengrajin tidak sesuai dengan minat pelanggang.
         Bahan baku yang tersedia sebagian ada yang rusak dan tak layak untuk digunakan sehingga tidak bisa digunakan dalam membuat aksesoris.

 2.8  Solusi untuk permasalahan di petra jewelry
Bahan merupakan salah satu hal terpenting dan menjadi kendala serius yang dihadapi oleh Perta jewelry. Maka ‘Petra Jewelry’ harus memperhatikan masalah ini dengan serius. Untuk mengatasi hal ini petra jewelry harus menyediakan bahan baku pengganti yang lebih menarik dari bahan baku sebelumnya dan menawarkan design-design aksesoris baru yang lebih kreatif dan menarik agar pelanggan lebih tertarik dan mau menggunakan bahan pengganti yang baru. Sehingga pelanggan tidak kecewa karena bahan baku yang diinginkan telah habis.
Petra Jewelry juga harus mengantisipasi akan adanya bahan baku yang rusak/cacat dengan menentukan standar kualitas pembuatan bahan baku kepada pengrajin. Karena ketika dilakukan sortir kualitas oleh pengelola, masih terdapat bahan baku yang cacat/rusak. Sehingga tidak ada bahan baku cacat/ rusak yang sampai ke tangan pelanggan yang membuat pelanggan kecewa dan merasa enggan untuk berbelanja kembali di ‘Petra Jewelry’.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Petra jewelry merupakan salah satu tempat berbelanja yang bisa dikembangkan menjadi sebuah tempat wisata yang cukup menjanjikan. Dengan visi dan misi yang dimiliki oleh petra jewelry  menjadikan sebuah alternative dalam kepariwisataan. Dengan konsep yang unik menjadikan petra jewelry berbeda dengan objek wisata lainnya. Tak hanya menghabiskan waktu dengan hiburan-hiburan namun bisa mengisi waktu dengan kegiatan yang beredukasi dan tentu menyenagkan membuat karya sendiri. 
Daya tarik petra jewelry sebagai salah satu objek wisata kerajinan tangan tentu sangat membutuhkan banyak kreatifitas dalam membuat aksesoris dari para trainer. Bila para trainer sudah terlatih, maka mereka mampu mengajarkan dengan baik segala macam kerajinan tangan dan hal ini bisa menjadi nilai tambah untuk mempromosikan petra jewelry kepada masyarakat. Pemerintah harus mendukung dan turut serta mengembangkan wisata kerajinan tangan ini karena akan sangat baik bila bisa berkembang selain menjadi salah satu pemasukan bagi pemda juga bisa membangun mental anak muda untuk lebih berinovasi dan berpikir kreatif dan tidak menjadi remaja yang konsumtif.
3.2 Saran- Saran
1. Petra Jewelry harus lebih meningkatkan kualitas bahan baku pembuatan aksesoris dengan meningkatkan standar kualitas pembuatan bahan baku.

2. Petra Jewelry harus lebih memperlengkap koleksi bahan baku agar semakin banyak menarik minat pelanggan karena bahan baku yang tersedia di ‘Petra Jewelry’ sudah lengkap dan variatif.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN Teori Perkembangan Kognitif Vigotsky

A. Teori Perkembangan Kognitif menurut Konsep Vygotsky
     Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.
Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Sofiet selama sepuluh tahun dari tahun 1920-1930. Namun karyanya baru dipublikasikan diduia barat pada tahun 1960an. Sejak saat itulah, tulisan-tulasannya menjadi sangat berpengaruh didunia. Vygotsky juga mengagumi Piaget , Vigotsky setuju dengan teori Piaget bahwa perkembangan kognitiv terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, akan tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitasya sendirian, karena menurut Vygotsky suatu pengetahuan tidak hanya didapat oleh anak itu sendiri melainkan mendapat bantuan dari lingkungannya juga.
            Karya vygotsky didasarkan pada pada tiga ide utama: 
1. Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
2.  Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual.
3. Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator   pembelajaran siswa.
            Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan alam dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Tiga, merka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses didalam sistem memori otak.

            Para ahli psikologi kognitif menyebut informasi dan pengalaman yang disimpan dalam memori jangka panjang dalam pengetahuan awal. Pengetahuan awal (prior knowlege) merupakan kumpulan dari pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawah kepada suatu pengalaman baru.

            Menurut teori Peaget Perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif dilingkungan sekolah. Tapi Vygotsky tidak sependapat dengan Peaget, Vygotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social.       Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat disekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari disekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya.
            Banyak developmentalis yang bekerja dibidang kebudayaan dan pembangunan yang sepaham dengan teori Vygotsky, yang berfokus pada konteks pembangunan social budaya. Teory Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran yang melibatkan pembelajaran yang menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, system matematika dan alat-alat ingatan. Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan kognitif dari pada Peaget. Bagi Peaget bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. Pengalaman bahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Pada kenyatannya, Kebanyakan anak-anak diajari bahasa sejak usia yang sangat mudah. Bahkan saat anak mulai bisa melihat dunia. Kita perlu mengenalkan bahasa sejak dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik. Para pakar perilaku memandang bahasa sama dengan perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kalimat yang kita hasilkan adalah baru, kita tidak mendengar atau membicarakan sebelumnya. Kita tidak membicarakan bahasa didalam suatu ruang hampa sosial, kita memerlukan pengenalan bahasa yang lebih dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik.

            Dewasa ini kebanyakan peneliti bahasa yakin bahwa anak-anak dari berbagai konteks social yang luas menguasai bahasa dari ibu mereka tanpa diajarkan secara khusus. Seperti halnya saat anak menangis, menangis merupakan bahasa anak saat meraka belum bisa berbicara, menangis dijadikan sebagai bahasa mereka saat mereka menginginkan sesuatu. Walaupun begitu proses pembelajaran bahasa biasanya memerlukan lebih banyak dukungan dan keterlibatan dari pengasuh dan guru. Karena dari lingkungan juga mereka akan dapat tambahan kosakata. Suatu lingkungan juga yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak. Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lngkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini itu lebih penting. Karena bahasa berfungsi sebagai komunikasi. Dan suatu komunikasih itu digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah.
            Vygotsky juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil didalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan sosial didalam perkembangan kognitif berbeda dengan teori Peaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian. Karena Peaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual. Sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak anak lain dalam memuahkan perkembangan si anak..
            Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relative dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun,anak-anak tidak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Vygotsky juga menekankan baik levelkonteks sosial yang bersifat inter personal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalu instuisi seperti sekolah, penemuan seperti computer. Interaksi intuisional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan social yang luas untuk membimbing hidupnya. Level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada kefungsian mental anak. Menurut Vygotsky keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi social langsung. Melalui pengoranisasian pengalaman-pengalaman interaksi social yang berada dalam suatu latar belakang kebudayaan ini. Perkembangan anak menjadi matang.
B. Zone proximal Development Dan Konsep Scafolding
1. Zone proximal Development
            Zona proximal Development ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang yang lebih terampil. Batas ZPD yang lebih rendah ialah level pemecahan masalah yang di capai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Dan batas yang lebih tinggi ialah level tanggung jawab tambahan yang dapat di terima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur yang mampu. Penekanan Vygotsky pada ZPD menegaskan keyakinannya tentang pentingnya pengaruh-pengaruh social terhadap perkembangan kognitif dan peran pengajaran dalam perkembangan social. ZPD dikonseptualisasikan sebagai suatu ukuran potensi pembelajaran,akan tetapi IQ menekankan bahwa intelegensi adalah milik anak. sedangkan ZPD menekankan bahwa pembelajaran adalah suatu peristiwa social yang bersifat interpersonal dan dinamis yang tergantung pada paling sedikit dua pikiran, dimana yang satu lebih berilmu atau lebih terlatih dari yang lain. Pembelajaran oleh anak-anak kecil yang baru berjalan memberi contoh bagaimana ZPD bekerja. Anak-anak kecil yang baru berjalan itu harus di motivasi dan harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut ketrampilan buat mereka. Guru harus harus memiliki pengetahuan untuk melatihkan ketrampilan yang menjadi target pada setiap tingkat yang di persyaratkan oleh aktifitasnya. Guru dan anak harus saling menyesuaikan persyaratan masing-masing.
            Dalam suatu penelitian tentang hubungan antara anak-anak yang baru belajar berjalan dengan ibunya, pasangan itu di tugaskan untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang terdiri atas berbagai jumlah (sedikit obyek vs banyak obyek) dan berbagai kompleksitas (perhitungan sederhana vs reproduksi angka). Para ibu di minta mengerjakan tugas ini sebagai suatu peluang untuk mendorong pembelajaran dan pemahaman akan anak mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pemikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya bersatu.
             Ada dua prinsip yang mempengaruhi penyatuan pemikiran dan bahasa. Pertama, semua fungsi mental memiliki asal usul eksternal atau sosia. Anak-anak harus menggunakan basa dan mengkomunikasikannya kepada orang lain sebelum mereka berfokus ke dalam proses-proses mental mereka sendiri. Kedua, anak-anak harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa selama periode waktu yang lama sebelum transisi dari kemampuan bicara secara eksternal ke internal berlangsung. Periode transisi ini terjadi antara usia 3 hingga 7 tahun dan meliputi berbicara kepada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, berbicara sendiri itu menjadi hakekat kedua anak-anak dan mereka dapat bertindak tanpa menverbalisasikannya. Bila ini terjadi anak-anak telah menginternalisasikan pembicaraan mereka yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri, yang menjadi pemikiran anak.
            Teori Vygotsky menentang gagasan-gagasan Piaget tentang bahasa dan pemikiran. Vygotsky menyatakan bahwa bahasa, bahkan dalam bentuknya yang paling awal, adalah berbasis sosial, sementara Piaget menekankan pada percakapan anak-anak yang bersifar egosentris dan berorientasi nonsosial. Anak-anak berbicara kepada diri mereka untuk mengatur perilakunya dan untuk mengarahkan diri mereka (Duncan, 1991). Sebaliknya, Piaget menekankan bahwa percakapan anak kecil yang egosentris mencerminkan ketidakmatangan sosial dan kognitif mereka. 
            Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri bebrapa konsep melalui pengalaman. sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih maju dan berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. anak-anak tidak akan mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.
            Menurut Vygotsky, zona perkembangan proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan Sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerja sama dengan teman sebaya. Zona perkembangan proximal menitik beratkan pada interaksi social akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika seorang siswa mengerjakan pekerjaannya disekolah sendiri, perkembangan mereka akan lambat . jadi untuk memaksimalkan perkembangan siswa seharusnya bekerja dengan teman sebaya yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui interaksi yang berturut-turut ini diharapkan dapat mengembangkan pengalaman berbicara, bersikap dan berdiskusi secara baik. 





2. Konsep scaffolding
            Selain teori Vygotsky diatas, Vygotsky juga mempuyai teori yang lain yaitu tentang “scaffolding”. Scaffolding adalah memberikan bantuan yang besar kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri dan mengambil alih tanggung jawab pekerjaan itu. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah kedalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
            Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya yaitu: 
1. Menghendaki setting kelas kooperaif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masing-masing zone of proximal development mereka.
2. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep danpemecahan masalah.

 Pengaruh karya Vygotsky dan burner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh smith 
1. Walaupun Vygotsky dan burner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak dari pada peran yang diusulkan Peaget, keduanya tidak mendukung pengajaran diaktivis diganti sepenuhnya. Sebaliknya mereka malah menyatakan walaupun anak dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoristis ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak.
2. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discoveri learning) kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat perkembangan anak.
3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya, yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal didalam pelajaran. Foot et al, menjelaskan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.
           
            Komputer juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dalam prespektif pengikut vygotsky - bruner, perintah-perintah dilayar komputer merupakan scaffolding. Ketika anak menggunakan perangkat lunak atau software pendidikan, komputer menggunakan bantuan atau petunjuk scara detail seperti yang diisyaratkan sesuai kedudukan anak dalam ZPD. Tidak dipungkiri lagi beberapa anak dikelas lebih terampil dalam menggunakan computer sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan komputer guru bisa bebas mencurahkan perhatiannya kepada individu-individu yang memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding yang sesuai bagi masing-masing anak.

C. Penerapan dalam pembelajaran
            Hoover, peneliti dari Texas University of Austin yang juga CEO pada southwest educational development labolatory menyatakan: constructivism’s central idea is that human learning is contructed, that learners buld new knowledge upon the foundation of previous learning. This view of learning sharply contrasts with one in which learning is the passive transmission of information fro individual to another, a view in which reception, not contruction, is key. Ada dua hal penting disini yang berkenaan dengan pengetahuan yang dikontruksi oleh pelajar. Pertama adalah pelajar membangun satu pengertian baru dengan menggunakan apa yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Dalam hal ini tidak ada “tabularasa” dimana pengetahuan digoreskan. Pelajar akan memasuki suasana pembelajaran dimana pengetahuan yang diterima akan dihubungkan dengan pengalaman yang sudah ada sebelumnya dan pengetahuan yang sudah dimiliki saat ini akan mempengaruhi penerimaan pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tulisannya yang mengungkapkan bahwa yang terjadi dalam diri anak adalah sesuai dengan “convergentie theorie”. Teori ini mengajarkan bahwa seorang anak terlahir ibarat kertas yang sudah ada tulisannya, akan tetapi semua tulisan itu masih kabur atau suram. Tugas pembelajaran adalah membantu anak untuk mempertebal tulisan-tulisan yang bersifat baik sehingga kelak dapat berubah menjadi ilmu yang berguna dan budi pekerti yang baik. Sedangkan tuisan yang sifatnya jelek harus dibiarkan agar bertambah suram atau bahkan menghilang. Ki Hajar menentang teori tabularasa yang menganggap anak terlahir bagaikan kertas putih yang bisa ditulisi apa saja oleh pemelajar, atau teori aliran negative yang menganggap anak lahir bagaikan kertas yang sudah penuh dengan tulisan yang tidak dapat diubah isinya . Kedua adalah bahwa pembelajaran lebih bersifat aktif dan bukan pasif. Pelajar akan membandingkan apa yang baru dipelajarinya dengan apa yang diketahuinya. Jika terdapat perbedaan, maka pelajar akan mencoba mengakomodasikan apa yang baru dipelajarinya dengan memodifikasi pengetahuan yang sudah ada atau dimilkinya. Dalam proses ini akan terjadi proses pertimbangan oleh pelajar yang akan diakhiri dengan proses modifikasi jika pengetahuan baru tersebut dapat diterima. Salah satu landasannya adalah teori tidak kesesuaian kognitiv dari festinger (cognitive dissonance theory). Teori ini dikemukakan oleh festinger dalam bukunya yang berjudul A Theory of Cognitife dissonance. Menurut teori ini, ada kecenderungan dalam diri seseorang untuk selalu melihat konsistensi antar kognisi yang dimilikinya misalnya kepercayaan dan opini. Jika terjadi tidak kekesuaian antara sikap dengan prilaku (attitude and behavior), maka salah satu harus berubah untuk mehilangkan disonansi (ketidak-sesuaian) tersebut. Dalam hal, ada perbedaan sikap dan perilaku, maka biasanya orang akan merubah sikap untuk mengakomodasi perilaku. Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat ketidak sesuaian tersebut yaitu:
1. Jumlah disanonsi keyakinan
2. kepentingan yang ada dalam masing-masing keyainan
            Untuk menghilangkan ketidak sesuaian tersebut, pada dasarnya ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh seseorang, yaitu:
1. mengurangi tingkat kepentingan dalam disonansi keyakinan
2. menembah kesesuain keyakinan melebihi disonansi keyakinan
3. merubah disonansi keyakinan untuk menghilangkan inkonsistensi

            Disonansi sering terjadi dalam keadaan dimana seseorang harus membuat pilihan antara dua tindakan atau keyakinan yang tidak saling bersesuaian. Disonansi terbesar terjadi jika kedua elternatif memiliki tingkat atraktif yang sama. Perubahan sikap biasanya terjadi dalam arah yang memilki insentif yang lebih sedikit karena hasilnya adalah disonansi yang lebi kecil. Disini teori ini memiliki pertentangan dengan teori prilaku umum yang menganggap perubahan perilaku terbesar akan kearah peningkatan insentif.
            Maddux, cleborne d Johnson, d lamont dalam tulisannya mengenai teori kontrutifis membagi paham kontruktivis kedalam dua aliran, yaitu paham kontruktivis kogitif dan paham kontruktivis social. Kontruktivis kognitif didasarkan pengembangan yang dibuat oleh ahli psikologi perkembangan Swiss dan Peaget. Teori Peaget ini mengandung dua unsur pokok yaitu, umur dan tahap perkembangan. Melalui kedua unsur ini bisa diprediksi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh seorang anak berdasarkan umurnya, serta teori perkembangan yang menjelaskan bagaimana seorang anak membangun kemampuan kognitivnya.
            Perkembangan termasuk internalisasi atau penyerapan isyarat-isyarat sehingga anak-anak dapat berfikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Internalisasi ini disebut pengaturan diri (self regulation). Langkah pertama dari pengaturan diri dan pemikiran mandiri adalah mempelajari bahwa segala sesuatu memiliki makna. Langkah kedua dalam pengembangan struktur-struktur internal dan pengaturan diri adalah latihan. Siswa berlatih gerak-gerak isyarat yang akan mendatangkan perhatian. Kemudian langkah terakhir termasuk penggunaan isyarat dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. 
            Menurut Vygotsky, dengan melibatkan anak berdiskusi dan berfikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, akan mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Hal ini dapat menjadi “inner speech” atau “inner dialogue”, dialog dengan dirinya sendiri. Ini proses awal bagi anak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Selanjutnya, dikemudian hari ia akan mampu mengevaluasi diri, menganalisis kekurangan serta kekuatan yang dimilikinya. Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa berfikir pada tahapan yang lebih tinggi atau meta-cognition. Proses seperti ini dapat membuatnya menjadi manusia spiritual, yaitu manusia yang tahu siapa dirinya, dan mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, komunitas dan alam semesta. 
            Teori kontrukivis sosial dibangun berdasarkan pengembangan yang dibuat oleh Lev Vygotsky. Vygotsky menekankan pada lingkungan social yang ikut membantu perkembangan seorang anak. Bagi Vygotsky, budaya sangat berpengaruh sekali dalam membentuk strutur kognitif anak. Yang membantu perkembangan anak bukan hanya guru, tetapi jaga anak-anak yang lebih dewasa. Vygotsky mengemukakan konsep mengenai zone of proximal development. Dalam konsep ini seorang anak dapat memahami suatu konsep dengan bantuan orang lain yang lebih dewasa yang tidak bisa dilakukannya sendiri. Dengan begitu seorang anak akan lebih mengerti dan mempunyai banyak pengalaman dan wawasan serta dapat menyelesaiakan suatu permasalahan yang dianggapnya rumit dan memerlukan bantuan orang lain yang dianggapnya mampu membantu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, suatu wawasan yang tidak hanya didapat didalam sekolah tapi diluar sekolah. Dan permasalahan tersebut yang ada hubungannya dengan sekolah. Disini para pendukung kontruktivisme yakin bahwa pengalaman melalui lingkungan, kita aka memperoleh informasi, dan dapat menggabungkan pengalaman yang didapat sebelumnya dengan pengalaman yang baru. Dengan kata lain pada proses belajar masing-masing pelajar harus mengkreasikan pengetahuannya. Ada empat prinsip dasar dalam penerapan teori Vygotsky yaitu: 
1. Belajar dan berkembang adalah aktivitas social dan kolaboratif
2. ZPD dapat menjadi pemandu dalam menyusun kurikulum dan pelajaran 
3. Pembelajaran disekolah harus dalam konteks yang bermakna, tidak boleh dipisahkan dari pengetahua anak-anak yang dibangun dalam dunia nyata mereka
4. Pengalaman anak diluar sekolah harus dhubungkan dengan pengalaman mereka disekolah
















KESIMPULAN

• Teori Vgotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya.
• Zona perkembangan proximal ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil.
• Teori kontrukivis social dibangun berdasarkan pengembangan yang dibuat oleh lev Vygotsky. Vygotsky menekankan pada lingkungan social yang ikut membantu perkembangan seorang anak. Bagi Vygotsky, budaya sangat berpengaruh sekali dalam membentuk strutur kognitif anak. Yang membantu perkembangan anak bukan hanya guru, tetapi jaga anak-anak yang lebih dewasa. Vygotsky mengemukakan konsep mengenai zone of proximal development. Ada empat prinsip dasar dalam penerapan teori Vygotsky yaitu:
1. belajar dan berkembang adalah aktivitas social dan kolaboratif
2. seorang yang lebih dewasa dapat menjadi pemandu dalam menyusun kurikulum dan pelajaran 
3. pembelajaran disekolah harus dalam konteks yang bermakna, tidak boleh dipisahkan dari pengetahuan anak-anak yang dibangun dalam dunia nyata mereka

4. pengalaman anak diluar sekolah harus dihubungkan dengan pengalaman mereka di sekolah.